Dulu, punya HP keluaran terbaru itu semacam pamor tersendiri di kalangan mahasiswa. Tapi belakangan, tren itu mulai bergeser. Di kelas, di kosan, apalagi di grup WA angkatan, makin banyak teman-teman saya nan justru bangga cerita beli HP second daripada nyicil nan baru.
Awalnya saya pikir ini hanya soal duit nan lagi cekak. Tapi setelah ngobrol sama beberapa teman, rupanya alasannya lebih dalam dari itu.
Bukan Cuma Soal Hemat
Salah satu kawan satu bidang saya bilang, dia sengaja cari HP jejak kondisi 90% lantaran nggak mau kejebak angsuran nan bikin dompet mahasiswa makin sesak di akhir bulan. Tapi ada juga nan alasannya lebih ke style hidup: mereka merasa nggak perlu ikut-ikutan upgrade tiap tahun hanya lantaran ada seri baru rilis. Toh spesifikasi HP tiga tahun lampau pun sudah lebih dari cukup buat kuliah, ngerjain tugas, sampai nonton video panjang di sela jam kosong.
Fenomena ini kadang disebut frugal tech alias style hidup teknologi nan lebih sadar dan nggak boros. Bukan berfaedah anti-teknologi, tapi lebih milih teknologi nan betul-betul dibutuhkan, bukan nan sekadar tren.
Marketplace Jadi Andalan
Yang menarik, transaksi ini banyak terjadi lewat marketplace atau grup jual-beli kampus, bukan toko resmi. Ada semacam "ekosistem" mini di mana HP beranjak tangan dari kakak tingkat ke adik tingkat, dari nan baru lulus ke nan baru masuk. Harganya pun jauh lebih ramah kantong, dan jika beruntung, kondisinya tetap mulus lantaran dipakai dengan hati-hati oleh pemilik sebelumnya.
Tentu ada risikonya. Nggak sedikit nan pernah kena tipu, dapat unit rusak, alias baterai nan rupanya sudah drop. Makanya, teman-teman nan sudah pengalaman biasanya saling kasih tips: cek IMEI, minta video real-time, alias ajak COD di tempat ramai.
Refleksi: Konsumsi nan Lebih Bijak?
Buat saya pribadi, tren ini justru menarik untuk direnungkan. Di tengah gempuran iklan gadget baru tiap bulan, rupanya tetap banyak mahasiswa nan memilih jalan lebih pelan --nggak buru-buru upgrade, nggak gengsian soal merek, dan lebih realistis sama kondisi kantong.
Mungkin ini bukan hanya soal HP. Ini soal gimana generasi sekarang mulai belajar mengelola kebutuhan versus keinginan, di tengah tekanan style hidup digital nan serba cepat.
Kalau Anda salah satu nan juga lebih pilih peralatan jejak berbobot daripada angsuran baru, Anda nggak sendirian --dan mungkin itu justru pilihan nan lebih masuk akal.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·