Ketika seorang anak tiba-tiba menjadi lebih mudah marah, keras kepala, alias tidak lagi seceria dulu, banyak orang dewasa langsung menganggapnya sebagai corak kenakalan alias pembangkangan. Padahal, perubahan perilaku pada anak tidak selalu muncul tanpa alasan. Ada kalanya sikap nan terlihat susah diatur justru menjadi bahasa nan digunakan seorang anak untuk menyampaikan kesedihan nan tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Fenomena ini tidak selalu disadari oleh keluarga. Banyak orang tua alias kerabat nan lebih konsentrasi pada perubahan sikap nan tampak di permukaan, tanpa menyadari bahwa ada peristiwa besar nan sedang diproses oleh seorang anak. Salah satunya adalah kehilangan orang tua pada usia nan tetap sangat muda.
Saya pernah mendengar kisah seorang anak wanita nan merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Sejak kecil, dia dikenal sebagai anak nan paling dekat dengan ayahnya. Dari berangkat sekolah hingga pulang sekolah, ayahnyalah nan selalu mengantar dan menjemput. Hampir semua perihal nan membuatnya senang selalu melibatkan sosok ayah. Tidak mengherankan jika dia tumbuh menjadi anak nan ceria, mudah bergaul, dan tidak banyak membantah orang tuanya.
Namun semuanya berubah ketika dia tetap duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Ayah nan selama ini menjadi tempatnya bercerita dan mencari rasa kondusif meninggal dunia. Kehilangan itu bukan hanya mengubah suasana rumah, tetapi juga mengubah dirinya sedikit demi sedikit. Anak nan dulu mudah tertawa menjadi lebih pendiam. Ia lebih sering marah, lebih keras kepala, dan lebih susah menerima nasihat. Orang-orang di sekitarnya memandang perubahan tersebut, tetapi tidak semua orang memahami bahwa perubahan itu mungkin merupakan bagian dari rasa kehilangan nan belum selesai.
Menurut teori keterikatan alias attachment theory nan dikembangkan oleh John Bowlby, hubungan emosional antara anak dan figur pengasuh mempunyai peran krusial dalam membentuk rasa aman. Ketika sosok nan selama ini menjadi sumber kenyamanan menghilang, anak dapat mengalami guncangan psikologis nan memengaruhi perilaku dan perkembangan emosinya.
Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa anak-anak belum mempunyai keahlian nan sama dengan orang dewasa dalam memahami dan mengelola kesedihan. Karena itu, rasa kehilangan tidak selalu ditunjukkan melalui tangisan alias kata-kata. Sebagian anak justru menunjukkan kesedihannya lewat sikap nan lebih mudah tersinggung, susah diatur, alias condong menarik diri dari lingkungan sekitar.
Hal seperti ini sebenarnya banyak tergambar dalam beragam karya. Film Keluarga Cemara menunjukkan bahwa family merupakan tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan rasa aman. Sementara novel Laskar Pelangi mengingatkan bahwa pengalaman masa mini dapat membentuk langkah seseorang menghadapi kehidupan hingga dewasa.
Sayangnya, masyarakat sering kali terlalu sigap memberi label "nakal" kepada anak nan sedang berubah. Padahal, di kembali kemarahan nan terlihat, bisa jadi ada kerinduan nan tidak pernah tersampaikan. Di kembali sikap keras kepala nan dianggap membangkang, mungkin ada kesedihan nan tidak pernah betul-betul dipahami.
Tidak semua anak nan kehilangan orang tua bakal mengalami perubahan nan sama. Namun satu perihal nan perlu dipahami, seorang anak nan sedang bersungkawa tidak selalu memerlukan banyak nasihat. Kadang mereka hanya memerlukan seseorang nan mau mendengarkan, memahami, dan memberi waktu agar mereka dapat berbaikan dengan kehilangan nan mereka alami.
Karena pada akhirnya, tidak semua luka bisa diceritakan. Sebagian hanya tampak dalam perubahan sikap nan sering disalahartikan oleh orang-orang di sekitarnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·