Kenaikan Pertamax Jadi Rp 16.250/Liter dan Dampaknya ke Ekonomi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Harga BBM Pertamax naik dari Rp 12.300/liter menjadi Rp 16.250 per liter. Langkah kenaikan BBM nonsubsidi dinilai realistis di tengah meningkatnya tekanan fiskal akibat lonjakan nilai minyak bumi dan ketidakpastian geopolitik global.

Pengamat ekonomi daya Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai penyesuaian nilai tersebut pada dasarnya wajar saja dilakukan lantaran mengikuti karakter Pertamax sebagai BBM nonsubsidi.

BBM non subsidi harganya memang ditentukan oleh sistem pasar, saat nilai minyak bumi naik sudah sewajarnya BBM non subsidi juga mengalami kenaikan harga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah telah menahan kenaikan nilai Pertamax sejak Maret 2026 untuk meredam akibat ekonomi kepada masyarakat. Namun, Fahmy memandang seiring meningkatnya beban kompensasi nan kudu dibayarkan kepada Pertamina, ruang fiskal pemerintah menjadi semakin terbatas sehingga penyesuaian nilai akhirnya susah dihindari.

Dia menilai kebijakan tersebut berpotensi membantu pemerintah mengurangi tekanan terhadap APBN.

"Sebenarnya tidak bisa ditahan lagi oleh pemerintah untuk mempertahankan nilai Pertamax agar tidak naik, lantaran beban fiskalnya semakin berat," ujar Fahmy dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6/2026).

Senada, ahli ekonomi Universitas Negeri Manado (UNIMA) Robert Winerungan mengatakan penyesuaian nilai Pertamax juga krusial dilakukan untuk menjaga keseimbangan nilai BBM domestik dengan negara-negara tetangga. Menurut dia, selisih nilai nan terlalu jauh berpotensi membuka kesempatan penyalahgunaan dan praktik perdagangan terlarangan nan merugikan negara.

Senada dengan Fahmy, dia juga menyebut kenaikan nilai Pertamax merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga kesehatan APBN di tengah kondisi dunia nan belum stabil.

"Pemerintah berupaya mengurangi beban APBN lantaran Pertamax sebenarnya merupakan BBM nan tidak semestinya mendapat intervensi pemerintah. nan memang mendapat kombinasi tangan pemerintah adalah Pertalite. Jadi pemerintah mengurangi beban APBN dengan meningkatkan nilai RON 92," kata Robert.

Dampak Pertamax Naik

Robert memperkirakan akibat sosial ekonomi dari kenaikan Pertamax tidak bakal sebesar jika pemerintah meningkatkan nilai Pertalite alias Solar. Pasalnya, pengguna Pertamax ataupun BBM non subsidi lainnnya umumnya berasal dari golongan masyarakat menengah dan pemilik kendaraan mewah.

"Saya kira dampaknya tidak terlalu besar. Sebagian besar masyarakat menengah ke bawah sudah menggunakan Pertalite. Karena itu saya percaya pengaruhnya tidak terlalu signifikan. Pertamax alias RON 92 umumnya digunakan oleh kendaraan-kendaraan nan lebih baru," ujar Robert.

Sementara itu, Fahmy memberikan catatan krusial bahwa pemerintah kudu bisa mengendalikan potensi perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite nan tetap dijual dengan nilai Rp 10.000 per liter.

Menurutnya, akibat kenaikan BBM Pertamax dapat membikin disparitas nilai nan semakin lebar dengan Pertalite nan merupakan BBM subsidi. Hal ini dikhawatirkan dapat mendorong sebagian pengguna Pertamax beranjak ke BBM subsidi.

"Karena itu, pemerintah perlu memperkuat izin dan pengawasan agar subsidi daya tetap tepat sasaran dan tujuan penghematan fiskal dapat tercapai," beber Fahmy.

(hal/hns)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance