Kementerian Luar Negeri Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump mengenai penyerahan uranium nan diperkaya milik Iran ke AS.
"Uranium nan diperkaya Iran tidak bakal dipindahkan ke mana pun," kata ahli bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dikutip dari AFP, Sabtu (18/4).
"Pemindahan uranium nan diperkaya Iran ke AS tidak pernah dibahas dalam negosiasi," tambahnya.
Trump sebelumnya menyebut AS bakal mendapatkan "debu nuklir" namalain uranium nan diperkaya Iran nan berada di bawah tanah. AS tidak mengeluarkan biaya untuk mendapatkan itu.
Baqaei menuturkan persoalan uranium Iran tidak dibahas dalam negosiasi terbaru. Negosiasi berfokus pada penyelesaian konflik.
"Negosiasi sebelumnya berfokus pada masalah nuklir, tetapi sekarang negosiasi berfokus pada mengakhiri perang, dan tentu saja cakupan topik nan dibahas menjadi lebih luas dan lebih beragam," katanya.
“Rencana 10 poin untuk mencabut hukuman sangat krusial bagi kami. Masalah kompensasi atas kerusakan nan ditimbulkan selama perang nan dipaksakan sangat penting,” tuturnya.
Teheran tetap mempunyai sejumlah besar uranium nan diperkaya hingga 60 persen, mendekati tingkat 90 persen nan dibutuhkan untuk membikin peledak atom, serta persediaan uranium nan diperkaya hingga 20 persen, periode pemisah kritis lainnya.
Sebelum serangan AS pada Juni 2025, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menghitung bahwa Iran mempunyai sekitar 440 kilogram uranium nan diperkaya hingga 60 persen, jauh di atas pemisah 3,67 persen nan ditetapkan oleh perjanjian tahun 2015 nan kemudian ditarik oleh Amerika Serikat.
Sejak Juni 2025, nasib persediaan ini tetap tidak pasti, dengan Teheran menolak akses pengawas IAEA ke lokasi-lokasi nan hancur akibat serangan AS dan Israel.
Blokade Selat Hormuz
Baqaei juga mengkritik Trump lantaran mengunggah di platform Truth Social miliknya pada hari Jumat bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran bakal tetap bertindak sampai kesepakatan tenteram dengan Teheran tercapai. Padahal Teheran telah menyatakan Selat Hormuz dibuka kembali.
“Pembukaan dan penutupan Selat Hormuz tidak terjadi di internet, itu ditentukan di lapangan, dan angkatan bersenjata kita tentu tahu gimana kudu bertindak menanggapi tindakan apa pun dari pihak lain,” kata Baqaei.
“Apa nan mereka sebut blokade angkatan laut pasti bakal ditanggapi dengan respons nan tepat dari Iran. Blokade angkatan laut adalah pelanggaran gencatan senjata dan Iran pasti bakal mengambil tindakan nan diperlukan,” lanjutnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·