Acara Katadata Policy Dialogue berjudul “Outlook Ekonomi 2027” pada Selasa (20/10/2026).(MI/Naufal Zuhdi)
KEMENTERIAN Keuangan (Kemenkeu) menyiapkan tiga strategi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027. Strategi tersebut meliputi pendekatan pragmatis, transformatif, dan diplomatis nan diarahkan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Direktur Direktorat Strategi APBN, Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kemenkeu, Wahyu Utomo, menyampaikan sasaran pertumbuhan nan lebih tinggi memerlukan pendekatan berbeda dari pola nan selama ini diterapkan.
“Untuk tumbuh tinggi tidak bisa dengan cara-cara biasa. Kalau dengan langkah biasa paling levelnya 5%. Makanya kudu ada pendekatan tiga strategi, pragmatis, transformatif, dan diplomatis,” kata Wahyu pada aktivitas Katadata Policy Dialogue berjudul “Outlook Ekonomi 2027” di Jakarta, Selasa (20/10).
Ia menjelaskan, pendekatan pragmatis dilakukan dengan memusatkan intervensi pemerintah pada titik-titik strategis nan mempunyai kontribusi besar terhadap perekonomian, baik dari sisi pengeluaran, produksi, maupun wilayah.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 54% terhadap produk domestik bruto (PDB), sedangkan investasi mencapai sekitar 29%. Karena itu, lanjut dia, shopping pemerintah perlu dirancang agar terhubung dengan konsumsi rumah tangga dan investasi sehingga memberikan akibat lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Dengan shopping pemerintah nan tumbuh tinggi, kudu ada keterkaitan dengan konsumsi dan investasi sehingga kontribusinya kuat terhadap pertumbuhan,” jelas dia.
Dari sisi produksi, pemerintah bakal mengarahkan stimulus dan insentif kepada sektor-sektor nan mempunyai peran besar dalam perekonomian, seperti industri manufaktur, perdagangan, pertanian, dan konstruksi.
Wahyu menambahkan, pendekatan pragmatis juga mempertimbangkan konsentrasi aktivitas ekonomi secara spasial. Dengan kontribusi Pulau Jawa nan mencapai sekitar 57% terhadap perekonomian nasional, percepatan shopping kementerian dan lembaga serta pemerintah wilayah diharapkan dapat memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan.
Strategi kedua adalah pendekatan transformatif nan menitikberatkan pada kerjasama lintas kebijakan. Menurut Wahyu, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan fiskal, tetapi memerlukan sinergi dengan kebijakan moneter dan sektor keuangan.
Pemerintah juga memandang Danantara sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi melalui investasi dan beragam aktivitas strategis.
Selain memperkuat koordinasi kebijakan, pemerintah mau mendorong perubahan struktur pertumbuhan ekonomi. Ketergantungan pada konsumsi perlu dikurangi secara berjenjang dengan memperbesar peran investasi nan berorientasi ekspor, hilirisasi, dan industrialisasi.
“Tidak mungkin suatu saat kita hanya mengandalkan konsumsi. Kuncinya adalah pergeseran ke investasi nan berorientasi ekspor, menekankan hilirisasi dan industrialisasi,” ucap Wahyu.
Adapun strategi ketiga adalah pendekatan diplomatis melalui ekspansi akses pasar dan penguatan diplomasi ekonomi. Wahyu menilai aktivitas ekonomi tidak lagi terbatas pada wilayah domestik, melainkan semakin terhubung lintas negara.
Wahyu menegaskan, ketiga strategi tersebut perlu ditopang oleh aspek pendukung nan memadai. Iklim investasi nan kondusif, kondisi APBN nan sehat, serta birokrasi nan mendukung bumi upaya menjadi prasyarat agar kebijakan dapat melangkah efektif.
Ia juga menekankan pentingnya pemberantasan korupsi untuk memastikan penyelenggaraan kebijakan melangkah optimal dan memberikan akibat nyata bagi perekonomian. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·