Kemenkeu: RI Punya Resiliensi Kuat dengan Penyangga Ekonomi Baik!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan Indonesia tetap mempunyai resiliensi nan kuat dengan buffer ekonomi nan relatif baik dibanding negara lain di tengah proyeksi ekonomi dunia nan melemah disertai tekanan inflasi nan meningkat membikin ruang mobilitas ekonomi bumi semakin sempit.

"Ketahanan ini tercermin dari surplus neraca perdagangan nan berkepanjangan serta keahlian ekspor nan tetap solid, sementara peningkatan impor nan didominasi bahan baku dan peralatan modal menunjukkan aktivitas produksi dan investasi domestik nan tetap ekspansif," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Deni Surjantoro dalam rilis APBN KITA, Kamis (30/4/2026).

Adapun, Deni memastikan pemerintah tetap menjaga APBN sebagai peredam gejolak, sementara sektor manufaktur tetap memperkuat di area ekspansi baik di dunia ataupun domestik, menandakan ekonomi tetap melangkah meski melambat.

Kendati ada tanda melambat, Kemenkeu tetap berkeyakinan pertumbuhan ekonomi kuartal I diproyeksikan mencapai 5,5% nan kuat, didukung oleh konsumsi rumah tangga nan resilien, percepatan investasi proyek strategis dan perumahan, serta kekuasaan sektor manufaktur berbasis hilirisasi.

Inflasi terkendali dengan baik pada level 3,48% nan berkarakter temporer, sementara ketahanan sektor finansial tetap terjaga meski di tengah tekanan global.

Deni menegaskan pemerintah terus aktif menjaga stabilitas Rupiah, yield SBN, dan market confidence, diiringi upaya optimasi nilai minyak serta lifting migas untuk memperkuat ketahanan fiskal nasional ke depan.

"Secara keseluruhan, momentum positif ini membuka kesempatan besar bagi pertumbuhan ekonomi nan berkepanjangan dan inklusif," ujarnya.

Lebih lanjut, Kemenkeu memandang pasar SBN menunjukkan ketahanan ditengah gejolak geopolitik global. Yield SBN nan sempat mengalami sentimen risk-off global, sekarang sudah mereda - spread yield SBN terhadap US Treasury berada pada level nan kompetitif di 229 pedoman poin per pertengahan April 2026.

Deni memaparkan posisi spread Indonesia nan lebih rendah dibandingkan negara emerging markets lainnya serta koreksi pada CDS Indonesia mencerminkan resiliensi pasar SBN dan tetap terjaganya kepercayaan penanammodal terhadap esensial ekonomi domestik.

"Pemerintah berbareng BI dan OJK bakal terus memantau dinamika dunia untuk memastikan stabilitas pasar finansial tetap terjaga, sehingga mendukung momentum pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Deni memastikan dengan pengelolaan fiskal nan prudent dan koordinasi kebijakan nan solid, Pemerintah optimistis APBN 2026 bakal terus menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nan inklusif dan berkelanjutan.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News