Petugas dari Manggala Agni Daops Sumatera XIV-Banyuasin berupaya memadamkan kebakaran lahan di Desa Simpang Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatra Selatan.(Dok. Antara)
FENOMENA El Nino nan menyebabkan musim tandus lebih panjang dan kering meningkatkan akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat penemuan dini, patroli pencegahan, hingga respons sigap untuk mencegah api meluas.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kemenhut Dwi Januanto mengatakan, peningkatan luas karhutla tidak terlepas dari kondisi suasana nan membikin curah hujan menurun dan kelembapan udara lebih rendah. Kondisi itu menyebabkan vegetasi dan lahan gambut lebih sigap mengering sehingga lebih mudah terbakar.
“Peningkatan luas karhutla tidak lepas dari aspek nan memengaruhi kondisi tersebut ialah adanya kejadian suasana nan menyebabkan musim tandus lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Dwi saat dihubungi, Sabtu (8/8).
Menurut Dwi, terdapat indikasi kejadian El Nino nan diperkirakan menjadi bagian dari siklus beberapa tahunan muncul lebih awal dengan intensitas kuat. Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan menurun di banyak wilayah, kelembapan udara lebih rendah, serta vegetasi dan lahan gambut lebih sigap mengering.
“Hal ini menyebabkan vegetasi dan lahan gambut lebih sigap mengering sehingga lebih mudah terbakar dan api lebih sigap menyebar,” katanya.
STRATEGI PENCEGAHAN
Menghadapi kondisi tersebut, Kemenhut memperkuat strategi pencegahan dan penanganan sedini mungkin. Langkah tersebut mencakup penguatan penemuan awal dan patroli pencegahan karhutla serta mempercepat respons pemadaman oleh Manggala Agni berbareng satuan tugas terpadu di daerah.
Dwi mengatakan, kesiapsiagaan juga diperkuat di wilayah rawan. Saat ini tujuh provinsi telah menetapkan status siaga darurat karhutla, ialah Riau, Kalimantan Barat, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
“Penetapan status ini memungkinkan untuk mengoptimalkan pengerahan sumber daya dan koordinasi lintas sektor dapat dilakukan lebih cepat,” ujar Dwi.
Kemenhut juga mendorong dan aktif dalam Desk Penanganan Karhutla nan dikoordinasikan Kemenko Polkam. Selain itu, supervisi oleh pejabat eselon I Kemenhut kepada para pihak dan pemerintah wilayah di wilayah rawan karhutla terus dilakukan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berbareng BNPB dan BMKG juga dioptimalkan sebagai salah satu upaya mitigasi di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi sesuai kebutuhan dan kondisi cuaca.
Selain itu, Kemenhut juga memperketat pengawasan terhadap pemegang izin. Dwi mengatakan setiap pemegang izin kudu memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana pemadaman, patroli pencegahan, hingga pelaporan.
“Memastikan kesiapan seluruh pemegang izin. Kemenhut terus melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap mitra korporasi agar memenuhi tanggungjawab pencegahan karhutla,” kata Dwi.
KOORDINASI
Pengendalian karhutla dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, mitra korporasi, hingga masyarakat. Kemenhut juga mengaktifkan posko pengendalian karhutla di sejumlah wilayah rawan untuk memperkuat pemantauan dan penanganan.
“Karhutla tidak dapat ditangani hanya oleh satu pihak saja, kerjasama merupakan salah satu kunci dalam upaya pengendalian kebakaran hutan,” tegasnya.
Di tingkat masyarakat, Kemenhut terus melakukan penyadartahuan melalui sosialisasi, penyuluhan, kampanye, serta media daring dan media sosial. Pemerintah juga memperkuat Masyarakat Peduli Api (MPA) agar bisa berkedudukan dalam pencegahan, penemuan dini, dan penanganan awal kebakaran di tingkat desa.
Masyarakat juga didorong menggunakan pengganti pembukaan lahan tanpa bakar dengan mengolah sisa bukaan lahan berupa potongan kayu dan bahan organik menjadi produk berbobot ekonomi seperti arang, cuka kayu, dan kompos.
DISIAGAKAN
Sementara itu, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kemenhut Thomas Nifinluri mengatakan kesiapan Manggala Agni terus diperkuat menjelang puncak tandus Agustus 2026.
Secara nasional, terdapat 2.515 personel Manggala Agni nan tersebar di 34 Daops dan didukung 46 pondok kerja di wilayah rawan karhutla.
“Kesiapan Manggala Agni menghadapi puncak tandus Agustus 2026 terus diperkuat, terutama saat ini mereka dalam kondisi siaga,” ujar Thomas.
Dari sisi operasional, personel dan sarana pemadaman telah disiagakan, termasuk pemeliharaan peralatan, pompa pemadam, patroli, groundcheck, serta simulasi mobilisasi.
“Operasi pemadaman juga sudah melangkah secara terpadu berbareng TNI, Polri, Pemda, Masyarakat Peduli Api (MPA), Regu Pemadam Kebakaran Mitra Korporasi dan pihak mengenai lainnya di sejumlah provinsi rawan,” katanya.
Thomas mengatakan kesiapsiagaan posko diperkuat melalui peningkatan patroli pencegahan, pemantauan hotspot, dan respons terhadap laporan karhutla. Posko terpadu di wilayah diaktifkan seiring penetapan status siaga darurat.
Hingga 8 Agustus 2026, Manggala Agni berbareng para pihak mengenai telah melaksanakan 3.057 operasi penanganan kejadian karhutla di beragam wilayah Indonesia. “Secara umum, keahlian Manggala Agni menunjukkan tren nan efektif dalam penemuan awal dan respons pemadaman, melalui sistem monitoring hotspot, groundcheck, patroli, dan respons sigap di lapangan,” ujar Thomas.
Namun, petugas tetap menghadapi sejumlah hambatan di lapangan, seperti keterbatasan akses menuju letak kebakaran, terutama di wilayah terpencil dan lahan gambut, topografi nan sulit, keterbatasan sumber air, serta cuaca ekstrem.
KAWASAN KONSERVASI
Ancaman kebakaran juga terjadi di area konservasi. Salah satu perhatian Kemenhut saat ini tertuju pada karhutla di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Berdasarkan info 9 Agustus 2026, luas area terbakar teridentifikasi sekitar 520 hektare. Penanganan dilakukan melalui operasi terpadu nan melibatkan Manggala Agni, Balai TN Bromo Tengger Semeru, BPBD, BNPB, Masyarakat Peduli Api, TNI, dan Polri.
Untuk letak nan susah dijangkau dengan topografi berat, operasi pemadaman didukung dua unit helikopter water bombing serta helikopter drone sprayer. OMC juga dipertimbangkan dengan terus memantau kondisi meteorologi.
Pada 9 Agustus 2026, kebakaran di Taman Nasional Gunung Merapi dengan luas 0,2 hektare juga sukses dipadamkan oleh petugas lapangan secara terpadu. “Kondisi ini menunjukkan pentingnya mencegah kebakaran terutama di area konservasi dengan segala keanekaragaman hayati di dalamnya,” kata Thomas.
Ia menegaskan penemuan awal dan respons sigap kudu terus diperkuat untuk mencegah kebakaran meluas. “Prinsip kami kebakaran kudu ditangani sedini mungkin agar tidak meluas dan menakut-nakuti ekosistem maupun objek vital di dalam area Taman Nasional,” pungkasnya. (Ata/H-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·