Kemenhut Pastikan Tak Ada Bara Tersisa di Bromo

Sedang Trending 51 menit yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) tetap melakukan pendinginan dan penyisiran area jejak kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Gunung Bromo, area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Langkah itu dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api nan tersisa dan kembali memicu kebakaran.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut Dwi Januanto Nugroho mengatakan proses pendinginan alias mopping up difokuskan pada titik-titik nan tetap berpotensi menyimpan panas.

"Pendinginan difokuskan pada titik-titik nan tetap berpotensi menyimpan panas agar bara betul-betul padam dan tidak kembali merambat ke bagian area nan belum terdampak," kata Dwi dalam keterangan tertulis nan diterima di Probolinggo, Senin (17/8) mengutip Antara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah nyaris dua pekan operasi, personel Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra) Ditjen Gakkum Kehutanan berbareng Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat tetap melakukan pemantauan serta pembasahan di area jejak terbakar.

Dwi mengatakan kewaspadaan tetap diperlukan lantaran kebakaran sebelumnya melanda sejumlah jenis vegetasi, mulai dari savana, pinus gunung, pakis, semak belukar, hingga lapisan serasah nan cukup tebal. Kondisi tersebut memungkinkan bara api memperkuat di dalam material nan terbakar meski kobaran api sudah tidak terlihat.

Tim juga mewaspadai kejadian pusaran angin lokal alias dust devil nan dapat mengangkat material ringan dan berpotensi membawa bara ke area lain. Menurut Dwi, penanganan karhutla di Bromo menjadi pelajaran krusial untuk memperkuat upaya pencegahan kebakaran, terutama dalam menghadapi musim kemarau.

"Bromo memberi satu pelajaran penting, api mungkin sudah terkendali, tetapi ancaman karhutla belum selesai. Pencegahan kudu diperkuat dari tingkat tapak," ujarnya.

Dia mengatakan pengelola area juga perlu memperkuat keterlibatan masyarakat, bukan hanya dalam pencegahan kebakaran, tetapi juga dalam pengelolaan area taman nasional.

Menurutnya, masyarakat merupakan pihak nan paling dekat dengan area rimba dan sering kali menjadi nan pertama mengetahui adanya gangguan. Di sisi lain, masyarakat juga menjadi pihak nan paling terdampak ketika kebakaran terjadi.

"Melindungi rimba kudu dilakukan berbareng masyarakat," kata Dwi.

Kemenhut, lanjut dia, tengah memperkuat pengendalian karhutla menghadapi musim tandus 2026. Penguatan itu mencakup kesiapan Manggala Agni, penemuan dini, patroli, serta koordinasi lintas sektor.

Sementara itu, Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan Suharyono nan memantau langsung aktivitas melalui apel siaga pengendalian kebakaran rimba mengapresiasi seluruh personel nan telah terlibat dalam operasi selama nyaris dua pekan.

"Personel bekerja menghadapi medan dan kondisi kebakaran nan tidak mudah. Terkendalinya api bukan akhir dari pekerjaan," ujarnya.

Suharyono menegaskan konsentrasi penanganan saat ini adalah memastikan seluruh area jejak terbakar betul-betul kondusif dan tidak ada bara nan kembali menyala.

Kemenhut menempatkan pengendalian karhutla sebagai bagian krusial dari upaya perlindungan rimba dan keselamatan masyarakat. Penanganan kebakaran di Bromo juga menjadi bahan pertimbangan untuk memperkuat pencegahan karhutla selama musim kemarau.

Penguatan penemuan dini, respons cepat, serta kerjasama di tingkat tapak dinilai krusial agar kebakaran tidak berkembang menjadi kerusakan ekologis nan lebih luas. Selain itu, kesiapan personel dan peralatan Manggala Agni terus diperkuat sebagai bagian dari upaya menghadapi potensi karhutla sepanjang 2026.

(tis/tis)

placeholder

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional