Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menyatakan kesiapan penuh untuk memberikan jasa pemulihan trauma bagi korban tragedi tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur.
Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji.
Wihaji menyampaikan duka cita mendalam atas musibah nan menimpa penumpang KRL dan KA Argo Bromo Anggrek. Ia menegaskan konsentrasi utama saat ini adalah penanganan korban secara sigap dan tepat. Lalu, jasa trauma healing bakal diberikan sesuai kebutuhan setelah fase darurat teratasi.
"Jadi mengenai penanganan korban tentu kelak kita bakal tindak lanjuti jika butuh, dalam tanda petik beberapa perihal nan berkenaan dengan konsultasi, berkenaan dengan family trauma healing, biasanya kewenangan kita di situ tentu nan krusial nan hari ini adalah konsentrasi penanganan korban biar sampai selesai jika kelak memerlukan trauma healing pasti kita turun, lantaran itu bagian dari tanggungjawab kita," ujar Wihaji.
Menurutnya, kehadiran negara dalam situasi darurat tidak hanya terbatas pada penanganan bentuk korban, tetapi juga mencakup pemulihan kondisi psikologis penyintas dan family korban. Layanan trauma healing dinilai krusial mengingat banyak penumpang nan menjadi saksi langsung kecelakaan tersebut.
Tragedi maut ini terjadi pada Senin malam, 27 April 2025. KA Argo Bromo Anggrek nan berangkat dari Stasiun Gambir menuju Surabaya pada pukul 20.30 WIB, menabrak KRL 5568A nan tengah tertahan di Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.57 WIB. KRL tersebut sebelumnya berakhir akibat kejadian lain, ialah tabrakan dengan taksi mogok di perlintasan Jalan Ampera.
Benturan keras menyebabkan kerusakan parah pada rangkaian kereta, dengan lokomotif KA menabrak gerbong KRL. Kepanikan melanda penumpang, sementara proses pemindahan berjalan dramatis hingga awal hari melibatkan beragam unsur, mulai dari PT KAI, TNI, Polri, Basarnas, hingga relawan.
Direktur Utama PT KAI (Persero), Bobby Rasyidin, mengungkapkan jumlah korban jiwa terus bertambah selama proses evakuasi. Hingga Selasa pukul 08.45 WIB, tercatat 14 orang meninggal bumi dan 84 lainnya mengalami luka-luka.
Seluruh korban meninggal telah dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi, sementara korban luka mendapatkan perawatan di sejumlah rumah sakit di Bekasi dan sekitarnya.
Pemerintah berbareng lembaga mengenai sekarang terus berupaya memastikan seluruh korban memperoleh penanganan maksimal, baik secara medis maupun psikologis. Tragedi ini sekaligus menjadi peringatan krusial bakal perlunya peningkatan sistem keselamatan perkeretaapian nasional.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·