Ilustrasi(Dok Istimewa)
Kementerian Agama (Kemenag) merealisasikan support sebesar Rp74,24 miliar untuk pemulihan sarana dan prasarana 821 pesantren nan terdampak musibah di Provinsi Aceh.
Anggaran tersebut merupakan hasil pemutakhiran dari alokasi awal sebesar Rp80,215 miliar nan diperuntukkan bagi 902 lembaga pesantren. Setelah melalui proses verifikasi dan pencocokan kondisi di lapangan, jumlah penerima support berubah menjadi 821 lembaga.
Penyesuaian info tersebut terutama terjadi pada pesantren nan masuk kategori kerusakan sedang dan ringan. Berdasarkan hasil verifikasi, sebanyak 77 lembaga kategori rusak sedang dan empat lembaga kategori rusak ringan mengalami perubahan info penerima.
Dari total support nan telah direalisasikan, sebanyak tujuh pesantren dengan kondisi rusak total memperoleh support Rp1,96 miliar. Selanjutnya, 250 pesantren rusak berat mendapatkan Rp33,98 miliar, 404 pesantren rusak sedang memperoleh Rp30,3 miliar, dan 160 pesantren rusak ringan menerima Rp8 miliar.
Dengan perubahan tersebut, terdapat efisiensi anggaran sebesar Rp5,975 miliar dari alokasi awal.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Suyitno mengatakan, verifikasi dan pemutakhiran info diperlukan agar support tidak hanya didasarkan pada info administratif, tetapi betul-betul mencerminkan kondisi pesantren nan terdampak.
"Kita tidak mau support berakhir pada nomor administrasi. nan menjadi dasar adalah kondisi nyata pesantren. Karena itu, info kudu terus diverifikasi agar support nan diberikan tepat sasaran dan sesuai tingkat kerusakan," kaya Suyitno di Jakarta, Senin (14/9).
Menurut Suyitno, support tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperbaiki gedung pesantren nan mengalami kerusakan. Pemulihan sarana dan prasarana juga menjadi bagian dari upaya mengembalikan aktivitas belajar serta pengasuhan santri.
"Pesantren adalah ruang belajar, pengasuhan, sekaligus kehidupan bagi para santri. Ketika sarana dasarnya terganggu lantaran bencana, pemulihannya kudu menjadi prioritas agar anak-anak tetap bisa belajar dan beraktivitas dengan aman," ujarnya.
Ia memastikan proses penggunaan support bakal terus mendapat pengawasan. Menurutnya, percepatan pemulihan kudu melangkah beriringan dengan tata kelola anggaran nan dapat dipertanggungjawabkan.
"Prinsipnya sederhana, ialah cepat, tepat, dan akuntabel. Kita mau pesantren nan terdampak segera bangkit, tetapi tetap dengan tata kelola nan dapat dipertanggungjawabkan," ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, M. Arskal Salim menjelaskan, perubahan jumlah penerima dan besaran support merupakan akibat dari proses verifikasi terhadap kondisi kerusakan masing-masing pesantren.
"Secara teknis, info awal kemudian kita lakukan verifikasi dan penyesuaian volume berasas tingkat kerusakan. Jadi, nomor 821 lembaga dan Rp74,24 miliar merupakan info setelah proses pemutakhiran, bukan sekadar pengurangan administratif," jelas Arskal.
Ia mengatakan, support disalurkan secara berjenjang dengan mempertimbangkan kelengkapan manajemen serta hasil verifikasi di lapangan.
Pada tahap pertama, Kemenag telah mencairkan support sebesar Rp63,458 miliar alias sekitar 85,5 persen. Sementara pencairan tahap kedua mencapai Rp10,782 miliar alias 14,5 persen.
Arskal menuturkan, pola penyaluran secara berjenjang diterapkan untuk menjaga akuntabilitas sekaligus memastikan biaya dapat segera digunakan oleh pesantren nan telah memenuhi persyaratan.
Kemenag menilai pemulihan sarana dan prasarana pesantren menjadi bagian krusial dalam menjaga keberlangsungan pendidikan keagamaan di wilayah terdampak bencana. Dengan support tersebut, aktivitas pembelajaran dan pengasuhan santri diharapkan dapat kembali berjalan secara kondusif dan layak. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·