Ketua APUKN, Elias Ginting(Istimewa)
KEMARAU mulai memberikan tekanan terhadap operasional industri kokas nasional. Asosiasi Pelaku Usaha Kokas Nusantara (APUKN) mencatat akibat mulai dirasakan dari keterbatasan pasokan air di area industri Morowali hingga menurunnya muka air Sungai Barito nan menjadi salah satu jalur krusial pengangkutan coking coal lokal dari Kalimantan.
Ketua APUKN, Elias Ginting mengatakan sejumlah tenant termasuk industri kokas di area Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mulai melakukan penyesuaian operasional menyusul keterbatasan pasokan air. Dalam kondisi tertentu, pasokan air dilaporkan hanya sekitar 50% dari tingkat normal.
“Air merupakan salah satu utilitas krusial bagi industri kokas, terutama untuk pendinginan, pengendalian emisi dan beragam proses penunjang. Industri saat ini terus melakukan efisiensi dan optimasi penggunaan air agar produksi tetap berjalan,” kata Elias dikutip dari siaran pers nan diterima, Rabu (2/9).
Tekanan akibat tandus juga terjadi pada sisi pasokan bahan baku. Sekitar 20% kebutuhan coking coal industri kokas berasal dari sumber domestik, terutama sebagai bagian dari campuran alias blending bahan baku. Sebagian pasokan tersebut berasal dari Kalimantan dan berjuntai pada transportasi sungai.
Berdasarkan pengolahan APUKN terhadap info Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, rata-rata tinggi muka air di Muara Teweh turun dari sekitar 21,02 meter pada Juli menjadi 20,39 meter pada Agustus 2026. Pada 12 Agustus, muka air apalagi sempat tercatat sekitar 19 meter.
Penurunan juga terpantau di Marabahan dari 11,91 meter menjadi 11,77 meter dan Gampa dari 15,16 meter menjadi 14,96 meter.
Menurut Elias, penurunan muka air dapat membikin tongkang tidak selalu dapat membawa muatan pada kapabilitas normal. Operator dalam kondisi tertentu kudu mengurangi muatan alias menyesuaikan agenda pelayaran demi keselamatan.
“Sekitar 20% bahan baku coking coal kami berasal dari dalam negeri. Ketika muka air sungai turun, kapabilitas pengangkutan ikut terpengaruh. Jika tandus panjang tetap bakal bersambung maka produksi kokas bakal tertekan dan bakal berakibat cukup signifikan terhadap volume ekspor produk ini serta meningkatkan beban biaya logistik,” tuturnya.
APUKN menegaskan bahwa aktivitas produksi industri kokas saat ini secara umum tetap berjalan. Pelaku industri telah melakukan sejumlah mitigasi, mulai dari efisiensi penggunaan air, pengaturan muatan dan agenda tongkang hingga menjaga tingkat persediaan bahan baku.
APUKN berambisi pemerintah, pengelola area industri, BWS, pemasok batubara dan pelaku logistik dapat meningkatkan koordinasi dan pemantauan kondisi hidrologi selama musim kemarau.
Menjaga kelancaran pasokan coking coal domestik krusial tidak hanya bagi industri kokas, tetapi juga bagi rantai industri hilir nan menggunakan kokas, termasuk feronikel, besi dan baja, serta stainless steel.
“Yang perlu kita jaga adalah agar tekanan akibat tandus ini tidak berkembang menjadi gangguan nan lebih besar terhadap rantai pasok dan program hilirisasi industri nasional,” pungkas Elias. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·