Kemarau Panjang, Bendung Wilalung Kudus Sudah 3 Bulan Mengering

Sedang Trending 44 menit yang lalu
Suasana Bendung Wilalung nan berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (16/9/202). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Kemarau panjang menerpa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Akibatnya, Bendung Wilalung nan berada di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah ikut mengering selama tiga bulan terakhir.

Pantauan kumparan di Bendung Wilalung pada Rabu (16/9) siang, tampak pada pintu nomor 1 sampai pintu nomor 11 tidak terdapat air. Di letak itu hanya ada sisa air nan berada di pintu nomor 11.

Di area bawah Bendung Wilalung tampak retakan tanah di beberapa titik. Kondisi tanah mengering dan gersang. Rumput di sekitar Bendung Wilalung juga menguning.

Operasional dan Pemeliharaan Bendung Wilalung, Sugeng Haryanto menyampaikan, kekeringan di area Bendung Wilalung sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir. Salah satu faktornya tandus panjang nan menerpa Kabupaten Kudus.

"Faktornya lantaran kemarau. Selain itu kondisi debit air dari Bendung Klambu di Kabupaten Grobogan tetap aman. Sehingga debit airnya tidak dialirkan ke Bendung Wilalung," katanya kepada kumparan, Rabu (16/9).

Suasana Bendung Wilalung nan berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (16/9/202). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Sugeng memaparkan, kendati Bendung Wilalung mengering, tidak memberikan akibat apa pun kepada masyarakat sekitar. Sebab, kegunaan Bendung Wilalung tidak mengalirkan air untuk irigasi sawah. Melainkan hanya sebagai penampung air saja.

"Bendung Wilalung ini fungsinya menampung air dan mengendalikan air saat terjadi banjir. Fungsinya sudah tidak lagi mengalirkan air ke irigasi," terangnya.

Ia melanjutkan, Bendung Wilalung biasanya terisi air ketika curah hujan tinggi. Dari situ, Bendung Wilalung menerima kiriman air nan berasal dari Bendung Klambu.

"Ketika musim tandus seperti ini, debit air Bendung Klambu normal. Maka, tidak perlu membuka pintu air ke Bendung Wilalung," jelasnya.

Sementara itu, mengenai tanah nan mengalami retak-retak di bawah Bendung Wilalung, dia menjelaskan penyebabnya memang lantaran kemarau. Tanah tersebut merupakan jenis tanah aluvial nan berupa endapan seperti lumpur dan pasir.

Suasana Bendung Wilalung nan berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (16/9/202). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Bendung Wilalung selama ini mengalirkan air ke Sungai Juwana (arah Kabupaten Pati) dan Sungai Wulan (dari Kabupaten Kudus ke arah Kecamatan Karanganyar Kabupaten Demak menuju ke muara Laut Jawa).

"Saat musim hujan, kegunaan Bendung Wilalung ini membagi beban air ke Sungai Wulan dan Sungai Juwana. Yakni dengan catatan debit air di Bendung Klambu 800 meter kubik per detik," ujarnya.

Bendung Wilalung dibangun pada 1908. Dari sebelas pintu nan ada, hanya pintu nomor 8 nan tetap dapat dioperasikan. Sisanya, keseluruhan pintu sudah tidak dapat dibuka tutup.

"Saat ini hanya pintu nomor 8 saja nan tetap aktif dioperasikan. Tentunya dengan SOP nan disepakati berbareng ketika hendak membuka pintu," imbuhnya.

Terpisah, Kepala BPBD Kudus, Jawa Tengah, Eko Hari Djatmiko mengatakan tandus nan panjang mengakibatkan Bendung Wilalung mengering. Bahkan, Eko menyebut, kekeringan tidak hanya terjadi di Bendung Wilalung saja.

"Di Kabupaten Kudus ada lima desa nan terdampak kekeringan," katanya kepada kumparan, Rabu (16/9).

Suasana Bendung Wilalung nan berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (16/9/202). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Lima desa nan dimaksud oleh Eko adalah Desa Glagahwaru, Desa Colo, Desa Setrokalangan, Desa Kedungdowo, dan Desa Mijen. Jumlah ini bertambah satu desa ialah Desa Mijen dari nan sebelumnya pada 2 September 2026 silam hanya empat desa terdampak kekeringan.

"Semua wilayah saat ini terdampak musim kemarau," imbuhnya.

Sementara itu, Kasi Kedaruratan BPBD Kudus, Jawa Tengah, Ahmad Munaji memaparkan, lima desa tersebut sudah diberikan air bersih. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di tengah kemarau.

"Kekeringan melanda lima desa di tiga kecamatan. Jumlah terdampak 1.031 KK alias 3.154 jiwa," katanya, Rabu (16/9).

Dropping air tersebut sudah dialokasikan sejak beberapa bulan lalu. Seperti Desa Glagahwaru nan sudah di dropping air bersih sejak 15 Juli 2026.

Desa Colo menerima dropping air bersih sejak 9 Agustus 2026. Sedangkan Desa Setrokalangan menerima dropping air bersih pada 18 Agustus 2026.

Kemudian Desa Kedungdowo menerima dropping air bersih mulai 28 Agustus 2026. Sementara itu, Desa Mijen menerima dropping air bersih sejak 8 September 2026.

"Untuk Desa Glagahwaru kebutuhan dropping air bersih saat ini sudah mulai berkurang lantaran masyarakat sudah banyak nan menerima," imbuhnya.

Salah seorang warga, Faiq Maulana menyampaikan area Bendung Wilalung memang mengering beberapa bulan lamanya. Menurutnya, kekeringan juga melanda Desa Kalirejo, bakal tetapi kebutuhan air tetap tersedia.

"Ada beberapa RW terdampak kekeringan. Hanya, tetap bisa teratasi dengan adanya PDAM serta aliran Waduk Kedungombo nan sudah mengalir sejak 15 September 2026 kemarin," imbuhnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan