Keluarga Berperan Penting dalam Pemulihan Kesehatan Mental

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Keluarga Berperan Penting dalam Pemulihan Kesehatan Mental Ilustrasi(magnific)

DUKUNGAN keluarga dan orang-orang terdekat memegang peranan krusial dalam proses pemulihan kesehatan mental seseorang. Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Efnie Indrianie, S.Psi, M.Psi, menekankan bahwa support tersebut tidak selalu kudu berupa pemberian solusi instan.

"Penting dipahami bahwa support family bukan berfaedah kudu selalu memberikan solusi. Terkadang, kehadiran nan menenangkan justru jauh lebih berarti daripada nasihat nan datang terlalu cepat," ujar Efnie di Jakarta, dikutip Kamis (15/10).

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha ini menjelaskan bahwa tekanan psikologis nan berkepanjangan dapat mengaktifkan sistem respons stres di otak dan tubuh secara berlebihan. Kondisi ini berakibat pada keahlian perseorangan dalam mengelola emosi, berpikir jernih, mengambil keputusan, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari.

Menciptakan Rasa Aman Psikologis

Dalam kondisi tertekan, kehadiran family nan suportif berfaedah memberikan rasa kondusif secara psikologis. Perasaan diterima, dimengerti, dan bebas dari penghakiman membantu seseorang mengelola tekanan emosional dengan lebih baik. Efnie menyebut bahwa family idealnya menjadi lingkungan di mana seseorang merasa kondusif menjadi dirinya sendiri, terutama saat kesehatan mentalnya sedang menurun.

"Keluarga tidak kudu menjadi terapis bagi personil keluarganya. Namun, family dapat menjadi tempat pertama di mana seseorang merasa kondusif untuk mengatakan 'saya sedang tidak baik-baik saja'," tambahnya.

Pesan Psikologis dalam Dukungan Keluarga:

Bentuk Dukungan Pesan nan Tersampaikan
Memperhatikan perubahan perilaku "Saya memperhatikan kamu"
Menawarkan support praktis/perhatian "Saya peduli padamu"
Menemani tanpa memaksa bicara "Saya ada untukmu"

Menghadapi Anggota Keluarga nan Menarik Diri

Seringkali, perseorangan nan mengalami masalah mental memilih untuk menutup diri lantaran takut dihakimi, merasa malu, alias tidak mau menjadi beban. Efnie menyarankan agar personil family tidak memaksa mereka untuk bercerita secara prematur.

Keterbukaan emosional memerlukan kepercayaan. Sebagai gantinya, family dapat melakukan pendekatan melalui aktivitas ringan, membujuk bicara tanpa interogasi, alias memberikan perhatian tanpa menuntut respons balik.

"Prinsipnya, jangan memaksa seseorang membuka pintu emosinya. Bangunlah rasa kondusif sehingga dia merasa cukup percaya untuk membukanya sendiri," tegas psikolog nan tergabung dalam Asosiasi Neuropsikologi Indonesia (Himpsi) tersebut.

Meski demikian, Efnie memberikan catatan krusial mengenai aspek keselamatan. Jika family mendapati adanya akibat keselamatan pada personil family nan bersangkutan, maka tindakan perlindungan kudu segera dilakukan meskipun perseorangan tersebut belum siap untuk bercerita secara terbuka. (Ant/Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑