Keluar dari Jerat Plastik

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi kantong plastik. Foto: JL T/Shutterstock

Ramai buletin mengulas perang, selat Hormuz, gencatan senjata Iran dan AS. Lelah dan muak mendengar buletin nan itu-itu saja kita bakal mematikan layar televisi, menggeser layar gawai dalam pengaman kita demi mencari buletin nan lebih menarik. Mungkin berita: pilih Furab alias Rabun, tindakan Bieber di Coachella dan buletin lain nan lebih menenangkan hati. Toh perang jauh di sana, menyeberangi beragam benua dan lautan, melewati gunung dan lembah untuk bisa sampai ke sini, jadi apa juganya terus-terusan dibahas?

Asyik menggeser layar sosial media hingga lupa waktu, tidak sadar perut keroncongan. Di masa serba digital ini semua mudah tinggal pesan dan bayar. Sejenak setelah memilih menu nan diinginkan kita bakal terhenti sejenak. Penyedia jasa layanan makanan daring menambahkan Rp500,00 untuk gelas plastik saribuah nan kita pesan. Sedikit ragu, namun lantaran sudah telanjur mau membeli biaya itu ditambahkanlah dalam keranjang belanja.

Bagi kita nan sebelumnya menganggap perang tidak ada hubungannya dengan kita, coba pikir sekali lagi. Sesungguhnya perang itu masuk ke dapur kita dalam corak sebuah jerat kantong plastik. Lalu, gimana plastik bisa menggerogoti dapur kita dan menggerus perekonomian kita?

Perang sering dipahami sebagai urusan senjata, wilayah, dan kekuasaan. Namun di kembali dentuman artileri dan runtuhnya diplomasi, terdapat guncangan lain nan tak kalah besar: terganggunya rantai pasok global, termasuk bahan baku plastik alias bijih plastik. Kenaikan nilai bijih plastik akibat perang dan Indonesia tetap tergantung pada impor bijih plastik.

Kita memerlukan plastik sebagai bungkusan baik itu makanan, obat, sabun, sampo apalagi pekerja bagian jasa penjual makanan memekik tertahan lantaran thinwall, plastik bungkusan wadah makanan harganya sedang naik hingga 80%. Ketidakpastian dan peningkatan jalur pengedaran menggerek nilai plastik.

Dampaknya menjalar hingga ke negara-negara nan secara geografis jauh dari medan perang. Industri plastik di negara berkembang nan sangat berjuntai pada impor bijih plastik merasakan tekanan nilai nan signifikan. Produsen kemasan, UMKM manufaktur, hingga sektor pangan dan minuman kudu menghadapi biaya produksi nan melonjak, sementara daya beli masyarakat belum tentu meningkat. Penjual bergulat dengan dilema: menjual dengan nilai tetap namun merugi alias meningkatkan nilai namun kehilangan pengguna lantaran nilai mahal.

“Kusak” Penganti Plastik

Jika memutar kembali waktu ke era dahulu, kita bisa hidup tanpa plastik, kenapa sekarang tidak? Nenek moyang sudah menyediakan pengganti pengganti plastik, dengan daun pisang, daun jati, daun kelapa dan sejenisnya.Di pulau Kalimantan terutama Kalimantan Tengah (Kalteng) ada tanaman endemik nan berjulukan purun. Purun ini seringkali dijalin menjadi tas nan sering disebut “kusak”.

Beberapa kusak siap pakai di toko kerajinan Kalteng (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kusak adalah tas lokal berbentuk semacam bakul nan dapat digunakan untuk berbelanja ataupun membawa perlengkapan sehari-hari. UMKM lokal Kalteng seringkali menggunakan bahan ini untuk membikin tas. Meskipun tidak sepopuler rotan, tas berbahan purun nan dianyam lebih terjangkau dan sering digunakan sebagai wadah berbelanja sejak era dahulu. Namun sejak adanya plastik kebiasaan ini sudah mulai ditinggalkan sehingga tas purun alias kusak sekarang kehilangan peminatnya. Padahal kondisi di mana semua nilai plastik naik ada kesempatan kusak untuk kembali menjadi primadona.

Contoh Kusak di salah satu toko di Kalteng (Sumber : Koleksi pribadi)

Dengan sedikit polesan agar nampak modis, pelaku upaya UMKM bisa menangkap tantangan ini dan mengembalikan kejayaan kusak untuk lokal apalagi sebagai pengganti pengganti plastik nan bisa menjangkau pasar nasional. Apabila plastik terlalu jumawa untuk turun dari takhta harganya, saatnya banting setir. UMKM kudu pandai menilai pasar.

Peluang Usaha Ramah Lingkungan

Menurut info dalam riset Jambeck (2015) Indonesia merupakan penghasil sampah plastik nomor 2 terbesar di dunia. Ketergantungan manusia terhadap plastik sudah saatnya dihentikan. Selain mencemari lingkungan lantaran bahannya nan tidak ramah lingkungan dan hanya bisa terurai dalam ratusan tahun, banyak pengganti nan sudah disediakan oleh alam. Saatnya menggunakan wadah nan bisa didaur ulang.

Dalam kondisi semacam ini semestinya upaya bulk store dapat bertumbuh. Bulk store merupakan toko nan menjual beragam bahan secara curah dan pembeli bisa membeli dengan membawa wadah sendiri. Hemat dan praktis. Menghilangkan rasa berdosa dalam diri lantaran terlalu banyak menimbun plastik tebal jejak sampo, sabun dan plastik pembungkus bahan makanan nan tidak bisa didaur ulang.

Gen Z Pelopor Kampanye Ekonomi dan Gaya Hidup Hijau

Gaya hidup hijau sekarang menjadi tren. Gaya hidup nan dulunya dianggap asing dan terlalu frugal sekarang mengalami disrupsi. Kelahiran Gen Z pemicunya. Generasi ini dikenal merupakan generasi nan peduli terhadap lingkungan. Gen Z (lahir ±1997–2012) dikenal sebagai generasi digital, namun nan salah satu karakter kuat mereka: kepedulian tinggi terhadap rumor lingkungan dan keberlanjutan.

Saya pernah mengenal seorang Gen Z nan mau selalu terlibat dalam tindakan lingkungan. Bahkan mereka punya organisasi nan berkompetisi dalam style hidup cinta lingkungan. Ketika memandang upaya sia-sia nan membuang daya dalam pekerjaan, gen Z condong mencibir dan secara blak-blakan meminta generasi sebelumnya untuk lebih peduli pada efisiensi dan pelestarian alam.

Dengan menjadikan style hidup hijau sebagai style hidup baru, Gen Z bisa menjadi generasi nan memimpin pada penemuan baru penggunaan bahan ramah lingkungan. Tren menggunakan produk berbahan alami bisa menjadi pengganti untuk bebas dari ketergantungan plastik. Apabila pelaku UMKM memanfaatkan kejadian ini, bukan saja bakal berakibat pada lingkungan tetapi bakal berakibat pada penghematan. Buatlah sebuah kampanye lingkungan untuk produk Anda, yakinlah Gen Z bakal beramai-ramai ikut melakukan promosi apalagi tanpa dibayar.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan