Perusahaan dinilai perlu mendeteksi indikasi kelelahan di lingkungan kerja lebih awal sebelum berkembang menjadi burnout.(Dok. MI)
Perusahaan dinilai perlu mendeteksi indikasi kelelahan di lingkungan kerja lebih awal sebelum berkembang menjadi burnout dan mendorong tenaga kerja meninggalkan organisasi.
Director of Strategic & Advisory KTM Solutions, Ivan Ahda, mengatakan burnout tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara berjenjang akibat beragam kondisi nan terbentuk dalam lingkungan dan pola kerja.
“Ketika burnout terus berulang, mungkin nan perlu kita lihat bukan lagi hanya individunya, tetapi juga lingkungan dan langkah kerja nan membentuk keseharian mereka. Di situlah wellbeing perlu bergeser dari sekadar individual wellbeing menjadi tanggung jawab organisasi,” kata Ivan dalam Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, kemarin.
Menurut dia, penanganan burnout selama ini kerap menitikberatkan pada keahlian perseorangan dalam mengelola stres, meningkatkan resiliensi, dan menjaga keseimbangan kehidupan dan pekerjaan alias work-life balance.
Namun, pendekatan tersebut dinilai belum cukup andaikan aspek nan memicu kelelahan justru berasal dari sistem, lingkungan, ataupun pola kerja di dalam organisasi.
Ivan mengatakan, perusahaan perlu mengidentifikasi beragam kondisi nan memengaruhi kesejahteraan tenaga kerja agar langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum kelelahan berkembang dan berakibat terhadap tenaga kerja maupun keberlangsungan organisasi.
Isu tersebut dibahas KTM Solutions melalui sesi berjudul The Burnout Audit: Detecting Organizational Fatigue Before Turnover Occurs dalam IHCBS 2026 nan berjalan pada 15-16 September 2026.
Dalam forum tersebut, KTM Solutions juga mengenalkan pendekatan Career Well-being (CWB) untuk memandang kondisi kesejahteraan seseorang dalam perjalanan kariernya.
Pendekatan itu mencakup lima dimensi, ialah kesejahteraan sosial, psikologis, lingkungan, fisik, dan finansial.
Pengunjung IHCBS 2026 dapat mengikuti CWB Assessment untuk memperoleh gambaran kondisi career well-being berdasarkan lima dimensi tersebut.
KTM Solutions menilai perhatian terhadap career well-being diperlukan agar organisasi tidak hanya berfokus pada produktivitas, tetapi juga bisa menciptakan lingkungan kerja nan mendukung kontribusi tenaga kerja secara berkelanjutan. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·