Kelangkaan Elpiji 3 Kg di Pidie Aceh: Warga Kembali ke Kayu Bakar

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
 Warga Kembali ke Kayu Bakar Warga menunggu antrean untuk memperoleh gas elpiji 3 kg di Kabupaten Pidie, Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

PERSOALAN klasik kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi tabung 3 kilogram (kg) kembali berulang tanpa solusi konkret di sebagian wilayah Provinsi Aceh. Selama nyaris tiga pekan terakhir, keberadaan "gas melon" tersebut seolah lenyap dari pasaran, memicu kekecewaan mendalam di kalangan masyarakat ekonomi bawah.

Kondisi nan menyerupai pembiaran ini mulai memukul sektor upaya mikro. Para pemilik warung nasi dan pedagang jajanan harian di Kabupaten Pidie sekarang berada di periode kebangkrutan akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar murah tersebut.

Ironisnya, kelangkaan ini terjadi secara merata di 23 kecamatan di Kabupaten Pidie. Padahal, pemerintah secara konsisten memberikan agunan atas kesiapan daya nasional. Di lapangan, realitanya justru bertolak belakang; pangkalan-pangkalan resmi nan semestinya menjadi garda terdepan penyaluran justru sering ditemukan tutup.

"Sudah tiga pekan ini jarang sekali terlihat aktivitas di pangkalan. Saat didatangi, seringkali tutup alias stoknya kosong," keluh Nur, penduduk Kemukiman Garot, Kecamatan Indrajaya, Kamis (18/6).

Kembali ke Kayu Bakar

Dampak krisis daya ini memaksa penduduk melakukan langkah ekstrem untuk memperkuat hidup. Di Kecamatan Tangse, sejumlah ibu rumah tangga terpaksa beranjak kembali menggunakan kayu bakar untuk keperluan memasak. Mereka kudu mencari kayu di lereng bukit batu dan area perkebunan kopi.

"Gas 3 kg sangat langka. Sambil pulang berkebun, penduduk terpaksa memikul kayu bakar untuk dibawa ke rumah," ujar Khaifal, penduduk Kecamatan Tangse.

Krisis ini juga memicu lonjakan nilai di tingkat pengecer tidak resmi. Mauli, seorang pedagang jajanan di Kota Sigli, mengungkapkan bahwa nilai gas melon di kios-kios liar sekarang menembus nomor Mata Uang Rupiah 30.000 hingga Mata Uang Rupiah 35.000 per tabung.

"Bagaimana kami bisa berdagang jika gas subsidi langka? Jika menggunakan gas non-subsidi 12 kg, modalnya tidak tertutup oleh untung nan kecil," tuturnya.

Data Distribusi di Kabupaten Pidie:

  • Jumlah Agen Penyalur: 8 Unit
  • Jumlah Pangkalan Resmi: 877 - 880 Unit
  • Cakupan Wilayah: 23 Kecamatan

Kontradiksi Data dan Realita

Kelangkaan ini memicu tanda tanya besar mengingat jumlah prasarana penyaluran di Kabupaten Pidie tergolong masif. Penelusuran Media Indonesia mencatat terdapat delapan pemasok besar nan beraksi di wilayah tersebut.

Dengan support nyaris 880 pangkalan resmi nan tersebar hingga ke pelosok desa, hilangnya pasokan selama tiga pekan menjadi anomali nan memerlukan pengawasan ketat dari pihak berkuasa dan Pertamina. Masyarakat berambisi pemerintah tidak hanya memberikan agunan di atas kertas, tetapi juga memastikan pengedaran tepat sasaran agar ekonomi rakyat mini tidak semakin terpuruk. (MR/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia