Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berkelakar saat mengingatkan jejeran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) agar humanis ketika menjalankan tugas di lapangan. Pramono meminta personel Satpol PP bisa menahan diri saat berhadapan dengan warga.
Hal itu disampaikan Pramono saat menghadiri peringatan HUT ke-76 Satpol PP dan HUT ke-64 Satlinmas di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026). Pramono mengatakan personel Satpol PP kerap menghadapi situasi nan dapat memicu emosi.
"Tadi video nan diputar memperlihatkan apa pun nan namanya personil Satpol PP juga bisa emosional, bisa marah, bisa tersinggung dari hal-hal kecil," kata Pramono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pramono mengingatkan Satpol PP untuk tetap mengedepankan pendekatan humanis ketika berhadapan dengan masyarakat. Menurutnya, sikap tersebut krusial lantaran Satpol PP menjadi salah satu wajah Jakarta.
"Karena sekarang ini Saudara-saudara ditugaskan di garda terdepan untuk menjaga wajah Jakarta, maka Saudara-saudara sekalian kudu bisa menahan diri. Minimal belajar dari Gubernurnya lah," ujarnya.
Pramono kemudian berkelakar mengenai caranya menghadapi orang nan mengejek dirinya. "Walaupun kadang-kadang diini (diejek) orang kan saya senyum-senyum aja," ucapnya.
Meski demikian, Pramono menegaskan sikap tenang bukan berfaedah menghilangkan ketegasan dalam mengambil keputusan.
"Walaupun senyumnya pasti apa nan menjadi keinginan, tujuan, dan nan kudu diputuskan tetap kita putuskan," sambungnya.
Pramono mengapresiasi perubahan wajah Satpol PP Jakarta nan dinilainya sekarang jauh lebih humanis. Pramono menilai pendekatan humanis kudu melangkah beriringan dengan ketegasan.
"Kalau Saudara-saudara sekalian bisa melewati melalui ini dan kemudian wajahnya lebih humanis, tetap tegas, tetap tertib, tetap berwibawa, saya percaya wajah Jakarta bakal total berubah," tuturnya.
Pramono mencontohkan penertiban di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Menurutnya, Satpol PP bisa menertibkan keberadaan Pak Ogah tanpa kudu kehilangan pendekatan nan humanis.
"Ketika sudah tertib, semua orang bilang 'Kenapa dulu nggak bisa ditertibkan seperti itu?'. Ini sebagai contoh,"jelasnya.
Pramono menilai meningkatnya kepercayaan publik terhadap Satpol PP menjadi modal krusial bagi Jakarta sebagai kota global. Menurutnya, wajah Jakarta tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga rasa aman, nyaman, dan ketertiban nan dirasakan masyarakat.
(bel/rfs)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·