Kekeringan Melanda Bekasi, 11 Kecamatan dan 39 Desa Kekurangan Air Bersih

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Kekeringan Melanda Bekasi, 11 Kecamatan dan 39 Desa Kekurangan Air Bersih BPBD Kabupaten Bekasi menyalurkan support air bersih untuk penduduk terdampak kekeringan akibat tandus panjang.(Doc BPBD)

KEKERINGAN mulai berakibat nyata terhadap kehidupan masyarakat di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Hingga Senin (10/8), sebanyak 11 kecamatan nan mencakup sekitar 39 desa dilaporkan terdampak kekurangan air bersih akibat musim kemarau.

Kondisi itu menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bekasi. Selain mengganggu kebutuhan air bersih masyarakat, kekeringan juga telah berakibat pada sektor pertanian dengan luas lahan nan terdampak mencapai sekitar 3.000 hektare.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi Muchlis mengatakan, pemerintah berbareng beragam unsur terus melakukan upaya penanganan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

“Untuk Kabupaten Bekasi sendiri sampai dengan hari kemarin sudah 11 kecamatan nan terdampak. Dari 11 kecamatan itu kurang lebih 39 desa dan ini cukup mengganggu kehidupan lantaran nan terdampak adalah kekurangan air bersih,” ujar Muchlis saat menyampaikan petunjuk pada apel pagi bagi seluruh ASN di Plaza Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat, Senin (10/8).

Menurut diaa, hingga saat ini sekitar 4,5 juta liter air bersih telah didistribusikan kepada masyarakat terdampak. Penyaluran tidak hanya dilakukan oleh BPBD, tetapi melibatkan TNI-Polri, PMI, PDAM, hingga sejumlah pelaku upaya nan berada di area industri.

Upaya itu dilakukan untuk menjaga agar masyarakat di wilayah terdampak tetap memperoleh akses air bersih di tengah kondisi tandus nan tetap berlangsung.

Namun, Muchlis mengingatkan masyarakat perlu bersiap menghadapi kondisi kekeringan nan tetap berpotensi berjalan dalam beberapa waktu ke depan.

Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim tandus diperkirakan tetap berjalan hingga Oktober. Sementara itu, kejadian El Nino juga disebut berpotensi memberikan pengaruh hingga awal 2027.

“Sekarang ini kita belum sampai di puncaknya,” kata Muchlis.

Karena itu, masyarakat diminta mulai melakukan penghematan air dalam aktivitas sehari-hari. Penggunaan air bersih secara bijak dinilai krusial untuk mengantisipasi semakin terbatasnya kesiapan air andaikan kekeringan terus meluas.

Koordinasi Lintas Sektor

Selain mendistribusikan air bersih, pemerintah juga memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi akibat kekeringan.

BPBD Kabupaten Bekasi berkoordinasi dengan sejumlah perangkat wilayah serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum dan BBWS Ciliwung-Cisadane. Koordinasi tersebut antara lain berangkaian dengan aliran air, penambahan debit air, serta support pemenuhan kebutuhan air masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat dan beragam organisasi juga mulai ikut mengambil bagian dalam penanganan kekeringan. Bantuan air bersih, antara lain, telah datang dari Pramuka dan organisasi off-road.

Muchlis mengapresiasi keterlibatan masyarakat tersebut. Namun, dia meminta setiap organisasi alias organisasi nan mau membantu menyalurkan air bersih agar berkoordinasi dengan BPBD.

Koordinasi diperlukan agar pengedaran support dapat diarahkan ke wilayah nan paling memerlukan dan tidak terjadi penumpukan support di satu letak sementara wilayah lain belum mendapatkan pasokan.

“Bisa berkoordinasi dengan BPBD sehingga kami bisa menentukan titik-titik mana nan perlu disalurkan air sehingga ada pemerataan dalam penyaluran,” ujarnya.

Waspadai Dampak Kesehatan

Tidak hanya persoalan kesiapan air, musim tandus juga perlu diwaspadai lantaran dapat meningkatkan akibat gangguan kesehatan.

Masyarakat diimbau membatasi aktivitas di ruang terbuka, terutama pada pukul 10.00 hingga 15.00 WIB ketika paparan panas condong lebih tinggi. Apabila aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, masyarakat disarankan menggunakan perlindungan seperti topi alias payung.

Masyarakat juga diminta menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga asupan vitamin, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit nan berpotensi muncul selama musim kemarau.

“Biasanya berbarengan dengan musim tandus ini, ISPA, jangkitan saluran pernapasan, dan demam berdarah. Sudah ada beberapa laporan mengenai dengan demam berdarah,” kata Muchlis.

Pemkab Bekasi pun membujuk seluruh komponen masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam menghadapi kekeringan.

Penghematan air di tingkat rumah tangga, kepedulian terhadap penduduk nan mengalami kesulitan mendapatkan air, serta partisipasi masyarakat dalam penyaluran support menjadi bagian krusial dari upaya menghadapi musim kemarau.

Dengan kondisi kekeringan nan telah berakibat pada ribuan hektare lahan pertanian dan puluhan desa, penanganan tidak hanya menjadi persoalan pengedaran air bersih, tetapi juga memerlukan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan akibat nan lebih luas. (AK)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia