Kekeringan Gunungkidul, Warga Rongkop Jual Ternak Buat Beli Air

Sedang Trending 48 menit yang lalu

Yogyakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah penduduk di Kemesu, Semugih, Rongkop, Gunungkidul, DIY terpaksa menjual hewan ternak milik mereka demi bisa memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau ini.

Sutopo (46), salah seorang penduduk Kemesu menuturkan, sebanyak 68 KK di desanya setiap tahun mengalami kekeringan. Pada 2026 ini, penduduk sudah mulai kesulitan air bersih sejak April-Mei kemarin.

"Kami memang sudah bertahun-tahun kesulitan dalam perihal air tersebut," kata Sutopo saat dihubungi, Selasa (28/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dijelaskan Sutopo, penduduk di wilayahnya tidak punya sumber air dan selama ini hanya mengandalkan penampungan air hujan (PAH). Saluran PDAM nan ada di tiga titik hanya bisa mengalir sepekan sekali.

Demi bisa memenuhi kebutuhan harian, kata Sutopo, penduduk Kemesu nan kebanyakan berprofesi sebagai petani pun terpaksa menjual sebagian hewan ternak milik masing-masing guna bisa membeli air bersih.

Umumnya, penduduk menjual ayam milik mereka. Namun, beberapa juga melego kambing muda andaikan punya stok ternak lebih.

"Mayoritas lantaran memang 90 persen petani, kemudian anak-anaknya nan muda merantau ke Jogja maupun ke Solo, jadi ya hanya tinggal orang tuanya nan sudah sepuh, nan sudah tua, ya apa nan mereka miliki saja untuk bisa dijual buat bisa membeli air," jelas Sutopo.

"Bukan menjual sapi ataupun jual kambing secara besar-besaran, enggak. Hanya kami kurangi satu alias ternak ayam kami jual kurangi begitu, ya bisa membeli begitu," sambungnya.

Jual ternak bak tradisi

Sutopo sendiri tahun ini terhitung sudah dua kali menjual ayam kampung miliknya. Seekor dibanderol sekitar Rp40 ribu untuk nan dewasa, sedangkan satu tangki air bersih dari wilayah Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah harganya mencapai Rp120 ribu.

Satu tangki air bersih ini biasanya bisa mencukupi kebutuhan harian per KK rata-rata sampai satu dua pekan. Termasuk, sebagian untuk keperluan kebutuhan minum ternak nan tersisa.

Pola menjual ternak untuk membeli kebutuhan air bersih ini apalagi sudah jadi semacam 'tradisi' bagi masyarakat Kemesu ketika musim tandus tiba.

Saat tandus tiba, penduduk sudah mulai memikirkan membeli pakan ternak dari luar pula, lantaran rumput pasti kering akibat tak diguyur hujan.

"Semenjak sudah berfamili (dan menetap di Kemesu) 2012, sesudah musim hujan selesai, kemudian berganti bulan kemarau, apa nan kami miliki terus jika pas saya bekerja mungkin bisa untuk dapat tambahan untuk bisa membeli air tersebut, begitu," kata Sutopo nan original Sukoharjo, Jawa Tengah itu.

Sutopo berkata dengan kemampuan ekonomi seadanya plus support air pemerintah, masyarakat kudu bisa memperkuat sampai musim hujan tiba. Sutopo nan tergabung dalam regu Relawan Muslim Gunungkidul itu tak jarang memanfaatkan koneksinya guna mendatangkan support air bersih untuk bersama.

Terlepas dari support nan sudah ada, besar asa Sutopo dan penduduk Kemesu agar pemerintah bersedia membantu mendeteksi sumber air serta pendirian sumur bor di wilayahnya. Harapannya, masyarakat di sana tidak terus menerus berjuntai pada support pihak lain.

"Kami memang sudah bertahun-tahun tidak mendapati sumber air, baik itu sungai maupun sungai bawah tanah. Tapi kami angan kami ada pihak mengenai pihak pemerintah bisa membantu kami mungkin dideteksi ada sumber air di dalam tanah sehingga kami bisa mendapatkan air bersih begitu," ucapnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan tahun ini instansinya telah mengalokasikan anggaran untuk penyaluran sebanyak 1.150 tangki air bersih.

Sampai hari ini, menurut Purwono, support nan telah disalurkan mencapai 128 tangki dengan kapabilitas 5 ribu liter per tangki.

Detailnya, 40 tangki disalurkan ke penduduk di Kecamatan alias Kapanewon Tepus, serta ke penduduk di Wonosari dan Panggang masing-masing 16 tangki. Sementara Kecamatan Rongkop sejauh ini jadi wilayah penerima terbanyak dengan total 56 tangki.

"Bantuan terus disalurkan dengan catatan ada permintaan secara resmi," kata Purwono, Senin (27/7).

Purwono menambahkan, penyaluran support air bersih tidak hanya dilakukan oleh BPBD. Alasannya, 12 kecamatan punya anggaran droping air sendiri. Macam Purwosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, Tepus, Rongkop, Girisubo, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Semanu, dan Ponjong.

Sementara itu, kecamatan nan tidak mempunyai anggaran droping air meliputi Wonosari, Saptosari, Karangmojo, Playen, Semin, dan Ngawen.

Per Juli 2026, support air bersih secara berdikari telah disalurkan oleh Kecamatan Rongkop, Girisubo, Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, dan Semanu.

"Berdasarkan monitoring nan dilakukan, support air sudah disalurkan ke delapan kapanewon," tutur Purwono.

(kum/wis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional