Demi kemanusian BPBD Kota Tasikmalaya pasok air bersih bagi masyarakat berada di 53 Kelurahan hingga kebutuhan tersebut selalu banyak permintaan lantaran kondisi air nan diberikan tidak cukup.(MI/Kristiadi)
KRISIS air bersih akibat musim tandus panjang dan fenomena El Nino di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat melaporkan ratusan sumur penduduk mengering, memaksa puluhan ribu family berjuntai sepenuhnya pada pasokan air bersih support pemerintah.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya, Budi Martanova Avatar, mengungkapkan bahwa akibat kekeringan sekarang telah mencakup 53 kelurahan dari total 69 kelurahan nan ada di 10 kecamatan. Kondisi ini menyebabkan penyusutan debit air sumur secara drastis di pemukiman warga.
Data Sebaran Dampak Kekeringan Kota Tasikmalaya
Berdasarkan info tervalidasi hingga Kamis (15/10/2026), berikut adalah rincian akibat dan upaya penanggulangan nan dilakukan BPBD Kota Tasikmalaya:
| Jumlah Kecamatan Terdampak | 10 Kecamatan |
| Jumlah Kelurahan Terdampak | 53 Kelurahan |
| Total Kepala Keluarga (KK) | 35.646 KK |
| Total Jiwa Terdampak | 111.595 Jiwa |
| Total Air Bersih Didistribusikan | 2.280.000 Liter |
| Frekuensi Pengiriman (Ritase) | 506 Rit |
| Titik Pengiriman | 253 Titik |
"Fenomena El Nino semakin kering sudah mencakup 10 Kecamatan hingga pasokan air bersih cuma-cuma nan diberikan mencapai 2.280.000 liter. Kebutuhan tersebut untuk meringankan beban masyarakat, diperuntukkan untuk minum, masak, cuci pakaian, dan wudu lantaran ratusan sumur di perkampungan mengalami kering," ujar Budi Martanova, Kamis (15/10).
Budi menambahkan, pengedaran air dilakukan setiap hari dengan menyasar beragam sektor, mulai dari pelosok perkampungan, pesantren, rumah sakit, sekolah, hingga area perkantoran dan perbankan. Upaya ini juga didukung oleh beragam pihak swasta dan lembaga lain guna memastikan kebutuhan dasar penduduk terpenuhi.
Kondisi Lapangan dan Keluhan Warga
Kekeringan tidak hanya berakibat pada kebutuhan domestik, tetapi juga melumpuhkan sektor pertanian. Solihin (48), penduduk Kecamatan Tamansari, menuturkan bahwa saluran irigasi, sungai, hingga Situ Cibeureum telah mengering total, sehingga lahan pertanian tidak dapat ditanami.
Untuk kebutuhan sehari-hari, penduduk terpaksa menampung support air dalam beragam wadah seperti galon, ember, tong, dan jerigen. Namun, support tersebut seringkali tidak mencukupi untuk seluruh kebutuhan rumah tangga.
"Bantuan air hanya bisa untuk mandi dan wudu. Selebihnya kami kudu membeli air galon lantaran tidak cukup. Musim tandus kali ini sangat parah, sumur betul-betul kering kerontang dan susah keluar air," pungkas Solihin.
Pemerintah Kota Tasikmalaya terus mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih dan melaporkan segera jika wilayahnya belum tersentuh support pengedaran air dari BPBD maupun relawan. (AD/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·