Kekeringan Bisa Sampai November, Pulau Jawa Paling Banyak Terdampak

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Ilustrasi kekeringan di Meksiko. Foto: ALEX ARZAGA/AFP

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut Pulau Jawa menjadi wilayah nan paling banyak terdampak kekeringan berasas pemetaan kondisi kekeringan dalam beberapa periode terakhir.

Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kekeringan merupakan musibah nan dapat berjalan cukup panjang. Berdasarkan info historis 2015-2025, periode kekeringan umumnya berjalan mulai Mei hingga November alias apalagi Desember.

“Data ini menunjukkan bahwa sesungguhnya kekeringan tersebut dimulai pada bulan Mei bisa sampai November tahun berjalan. Jadi musibah kekeringan ini menunjukkan tren nan cukup panjang,” kata Berton saat memaparkan perkembangan penanganan musibah di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa (15/9).

Menurut Berton, puncak kekeringan dalam info historis tersebut terjadi pada Juli dan September. Kondisi ini dipengaruhi berkurangnya kesiapan air akibat curah hujan nan rendah alias tidak merata.

Berton menyebut kekeringan dapat berakibat terhadap beragam sektor, mulai dari kesiapan air bersih, produksi pertanian, hingga meningkatnya akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla).

“Ini juga bisa mengganggu produksi pertanian, penurunan kesiapan air bersih, meningkatkan akibat kebakaran, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan serta kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Berdasarkan pemetaan BNPB, wilayah nan masuk daftar kabupaten/kota dengan tingkat kekeringan tinggi tahun ini didominasi wilayah di Pulau Jawa.

Meski demikian, kekeringan juga ditemukan di sejumlah wilayah lain, seperti Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Selain itu, kondisi kekeringan juga tercatat di sejumlah wilayah Sulawesi, Papua, Maluku, hingga Aceh.

“10 kabupaten/kota tertinggi kekeringan di tahun ini kita lihat didominasi di kabupaten-kabupaten di Jawa, kemudian ada di Kalimantan, baik Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, maupun Kalimantan Timur,” kata Berton.

Pada pemetaan dua dasarian alias periode 20 hari terakhir, BNPB kembali menemukan kekeringan nan didominasi kabupaten-kabupaten di Pulau Jawa.

Kondisi serupa juga terlihat di Kalimantan Barat bagian timur, sebagian Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Papua bagian Merauke, Sumatera bagian selatan, serta Bangka Belitung.

Warga Diminta Hemat Air

Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan (kiri) dan Plt Dirjen Perkebunan Kementan Heru Tri Widarto (kanan) saat memberikan keterangan pers Perkembangan Karhutla di Indonesia di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa (15/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Untuk mengantisipasi kekeringan, BNPB berbareng pemerintah melakukan sejumlah langkah mitigasi, mulai dari optimasi persediaan air hingga pembangunan prasarana penyimpanan air.

Berton menyebut upaya tersebut dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC), pengisian embung, danau, waduk, serta tempat penampungan air lainnya.

“Fokus kami adalah pembangunan sumur dalam, dan BNPB sudah melakukan beberapa pembangunan sumur dalam,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat kapabilitas wilayah dengan menyediakan sarana dan prasarana nan dibutuhkan untuk menyimpan air maupun menangani akibat kekeringan.

Berton juga meminta masyarakat menjaga sumber mata air dan tidak mengeksploitasinya secara berlebihan.

Masyarakat nan berada di wilayah terdampak kekeringan diminta menggunakan air secara bijak dengan memprioritaskan kebutuhan penting, seperti minum, memasak, dan sanitasi.

“Kurangi pemakaian air nan berlebihan dan matikan keran air jika tidak diperlukan,” kata Berton.

Warga juga dapat menggunakan kembali air jejak nan tidak mengandung bahan kimia keras, seperti air cucian beras, sayuran, alias bilasan busana untuk kebutuhan lain.

BNPB turut mengimbau masyarakat nan mengalami kekurangan air untuk melaporkan kondisi tersebut dan meminta support pengedaran air bersih kepada pihak berwenang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan