Kebakaran Hutan Gunung Lawu Meluas 490 Hektare, Pemkab Karanganyar Minta Modifikasi Cuaca

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Kebakaran Hutan Gunung Lawu Meluas 490 Hektare, Pemkab Karanganyar Minta Modifikasi Cuaca Pemadaman kebakaran rimba Lawu Gondosuli lewat water bombing tidak efektif lantaran gangguan cuaca, kabut dan angin kencang.(MI/Widjajadi)

CUACA kering dan kabut tebal tetap menjadi penghalang utama dalam upaya pemadaman kebakaran rimba di area Gunung Lawu, Gondosuli, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Hingga hari keenam, Selasa (20/10/2026) sore, api dilaporkan telah menghanguskan sekitar 490 hektare lahan.

Pemerintah Kabupaten Karanganyar, nan telah menetapkan status darurat penanggulangan kebakaran, sekarang mendesak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk segera melakukan modifikasi cuaca. Langkah ini dinilai mendesak lantaran upaya pemadaman lewat udara maupun darat belum membuahkan hasil signifikan.

Upaya water bombing nan dikerahkan menggunakan helikopter milik TNI AU dan TNI AD terkendala cuaca ekstrem. Angin kencang dan kabut tebal membikin operasional udara tidak maksimal, sehingga api terus meluas dan merayap di medan nan susah dijangkau.

"Kami terus menyiapkan water bombing di samping tim campuran darat. Tadi kami sudah berkoordinasi dengan Bupati Karanganyar, Rober Christanto, intinya meminta support BNPB untuk melakukan modifikasi cuaca," ujar Kalakhar BPBD Karanganyar, Sugiharjo, saat dikonfirmasi Selasa (20/10/2026) malam.

Sugiharjo menjelaskan bahwa dari empat sorti pemadaman udara nan direncanakan, hanya satu sorti nan sukses terlaksana. Gangguan cuaca memaksa helikopter ditarik kembali ke pangkalan, meski armada tetap dalam posisi siap beraksi jika kondisi memungkinkan.

Penyekatan Jalur Darat dan Pengamanan Pipa Air

Di sektor darat, tim campuran nan terdiri dari relawan, TNI, Polri, dan Perhutani terus melakukan pemadaman secara manual. Fokus utama saat ini adalah pembuatan sekat bakar alias "ilar-ilaran" untuk memutus penjalaran api agar tidak mendekati permukiman warga.

Selain memadamkan api, petugas juga memprioritaskan pengamanan pipa air bersih milik warga. Pipa-pipa tersebut sangat vital bagi pasokan air masyarakat di lereng Gondosuli hingga area Candi Ceto.

"Seperti di Posko pendakian Cemorokandang, dilakukan penyekatan di bawah Pos 1 agar api tidak meluas ke objek wisata. Sementara di Posko Ceto, kami menambah satu posko lagi unik untuk pengamanan pipa air warga," tambah Sugiharjo.

Rencananya, pada Rabu (21/10/2026), upaya pemadaman gotong royong lewat jalur darat bakal kembali diintensifkan. Pihak BPBD menekankan bahwa dalam kondisi kekeringan ekstrem seperti saat ini, support hujan melalui modifikasi cuaca menjadi solusi paling efektif.

"Hanya hujan nan bakal efektif membantu pemadaman pada situasi seperti sekarang ini," pungkasnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑