ilustrasi(Antara)
KASUS kebakaran nan terus berulang di beragam wilayah Jakarta dinilai sebagai persoalan laten nan hingga sekarang belum pernah ditangani secara komprehensif.
Pengamat tata kota Bakti Setiawan menegaskan kebakaran di area permukiman padat memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.
“Isu dan kasus kebakaran ini sifatnya laten. Selama ini tidak pernah ditangani secara komprehensif sehingga bakal terus berulang. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan begitu saja lantaran dampaknya sangat besar terhadap keselamatan penduduk dan kualitas lingkungan permukiman,” ujar Bakti saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (2/6).
Menurutnya, pendekatan penanganan kebakaran selama ini tetap terlalu berfokus pada upaya pemadaman saat kejadian berlangsung. Padahal, langkah pencegahan semestinya mendapatkan porsi nan jauh lebih besar agar akibat kebakaran dapat ditekan sejak awal.
Ia menjelaskan terdapat sejumlah aspek nan perlu diperkuat dalam strategi pencegahan. Pertama, peningkatan kesadaran masyarakat mengenai potensi ancaman kebakaran, terutama nan berasal dari instalasi listrik rumah tangga dan penggunaan peralatan elektronik nan tidak memenuhi standar keselamatan.
Selain itu, pemerintah juga perlu mempercepat perbaikan prasarana di area kampung padat masyarakat nan selama ini rentan terhadap kebakaran.
Kondisi jalan lingkungan nan sempit, gedung nan berhimpitan, hingga keterbatasan akses mobil pemadam kerap memperparah akibat saat kebakaran terjadi.
“Perbaikan prasarana di kampung-kampung padat kudu menjadi prioritas. Banyak area nan secara bentuk memang sangat rentan sehingga ketika api muncul, penyebarannya berjalan sangat cepat,” katanya.
Lalu dia juga mendorong penegakan norma nan lebih tegas terhadap praktik penggunaan jaringan listrik terlarangan nan tetap ditemukan di sejumlah area permukiman.
“Peningkatan kapabilitas organisasi sangat penting. Warga kudu mempunyai pengetahuan, peralatan dasar, dan sistem kesiapsiagaan nan memadai untuk mengatasi kebakaran di lingkungannya sendiri,” tandas Bakti. (Far/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·