KDM Dorong Transportasi Bandung Raya yang Modern, BRT Ditargetkan 2027

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Jakarta -

Transportasi publik di area Bandung Raya secara resmi memasuki era baru. Hal ini ditandai dengan prosesi groundbreaking pembangunan prasarana Indonesia Mass Transit Project (Mastran) sekaligus penandatanganan kerja sama penyediaan Public Service Obligation (PSO) jasa pikulan massal di area Cekungan Bandung.

Melalui program ini, sistem transportasi massal berbasis Bus Rapid Transit (BRT) ditargetkan mulai beraksi penuh pada 2027.

Sistem ini bakal didukung jaringan transportasi modern nan mencakup jalur khusus, ratusan halte, depo, hingga sistem transportasi pandai (Intelligent Transportation System).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Acara peresmian nan berjalan di area Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Rabu (22/7), dihadiri langsung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Aan Suhanan, serta para bupati dan wali kota se-Bandung Raya.

KDM, sapaan berkawan Dedi Mulyadi, menegaskan masyarakat saat ini memerlukan jasa transportasi umum nan tidak hanya terintegrasi, tetapi juga berkeadilan.

"Ini adalah kegembiraan bagi masyarakat Bandung Raya. Kita berambisi penyelenggaraan pembangunannya melangkah aman, lancar, tanpa gangguan, dan bisa menghadirkan kualitas prasarana nan berbobot tinggi," ucap Dedi Mulyadi dalam keterangan tertulis, Senin (27/7/26).

KDM menambahkan transportasi publik sekarang telah menjadi kebutuhan dasar penduduk metropolitan.

"Kita memasuki era baru. Transportasi modern bukan sekadar soal kecepatan, tetapi juga pelayanan nan prima, terdigitalisasi, dan (saling) terkoneksi," tambahnya.

Sejalan dengan hadirnya prasarana baru, KDM mendorong perubahan perilaku pengguna transportasi publik agar lebih tertib. Kesadaran menjaga akomodasi umum, membuang sampah pada tempatnya, serta menjaga etika berinteraksi di ruang publik menjadi perihal krusial.

Pemerintah juga perlu memberikan pelayanan nan apik untuk menunjang keamanan dan kenyamanan penumpang. Hal itu mencakup kesiapan akomodasi kebersihan, trotoar nan layak, penerangan jalan nan memadai, hingga pengamanan ekstra.

"Karena semakin tinggi trafik transportasi publik jika tidak diimbangi dengan kesiapan pengamanan nan kuat maka bakal (berpotensi) meningkatkan kejahatan," sambungnya.

Lebih lanjut, KDM mengingatkan peningkatan sistem transportasi di area metropolitan kudu berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok daerah.

"Jawa Barat kudu adil. Kota-kota besar berkembang, tetapi desa-desa juga kudu merasakan pembangunan. Infrastruktur dasar wajib menjangkau seluruh lapisan masyarakat," tegasnya.

Dalam kesempatan nan sama, Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi menjelaskan Kawasan Cekungan Bandung mempunyai tingkat mobilitas dan aktivitas ekonomi nan sangat tinggi.

Sayangnya, kondisi tersebut sering kali diiringi masalah kemacetan nan merugikan produktivitas, meningkatkan biaya logistik, dan menurunkan kualitas lingkungan.

Oleh lantaran itu, pemerintah menghadirkan Indonesia Mass Transit Project sebagai solusi jangka panjang untuk menata pergerakan masyarakat secara lebih efisien.

"Groundbreaking hari ini menjadi tonggak sejarah dalam mewujudkan transportasi publik modern. Kita mau menghadirkan pikulan umum nan nyaman, aman, tepat waktu, terjangkau, dan terintegrasi sehingga menjadi opsi utama mobilitas masyarakat," ujar Dudy.

Ia memaparkan BRT nantinya bakal menjadi tulang punggung mobilitas nan terhubung langsung dengan kereta api dan pikulan pengumpan (feeder).

Penandatanganan PSO juga dipastikan menjamin keberlangsungan operasional jasa dengan tarif nan terjangkau bagi semua kalangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan mengatakan program BRT Cekungan Bandung didukung pendanaan dari Pemerintah Indonesia, World Bank, dan Agence Française de Développement (AFD).

Proyek Mastran secara nasional mempunyai nilai pembiayaan mencapai USD264 juta alias sekitar Rp3,8 triliun. Khusus untuk pembangunan prasarana BRT di Cekungan Bandung, total investasi dialokasikan sebesar Rp1,3 triliun nan mencakup:

  • Pembangunan 21 kilometer jalur unik BRT.
  • Pembangunan 6 depo utama BRT.
  • Pembangunan 719 halte off-corridor dan 34 halte on-corridor.
  • Penerapan Intelligent Transportation System (ITS) untuk mendukung integrasi layanan.

Aan merinci pembangunan tahap pertama difokuskan pada halte off-corridor, Depo Cicaheum, Depo Leuwipanjang, dan jalur utama BRT.

Tahap berikutnya bakal menyasar pembangunan halte ikonik di Tegalega, Alun-alun Bandung, Stasiun Hall, Kiara Artha Park, serta depo tambahan di Cimenyan, Padalarang, Soreang, dan Majalaya.

Ke depannya, sistem BRT ini ditargetkan mempunyai waktu tunggu (headway) maksimal 7 menit pada jam sibuk dan 15 menit di luar jam sibuk.

"Kami optimistis seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target, sehingga masyarakat Bandung Raya segera menikmati transportasi publik nan efisien, andal, dan berkelanjutan," pungkas Aan.

(prf/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News