JAKARTA – Kata Mereka kali ini memberi kesempatan kepada Bang Robby Purba utnuk dapat mengupas lebih dalam mengenai masa bersiap, periode nan kerap terlewat dalam narasi besar sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia menegaskan bahwa masa ini menjadi kunci untuk memahami kenapa keturunan Belanda sekarang nyaris tak terlihat dalam kehidupan sosial Indonesia.
Bang Robby menjelaskan bahwa masa bersiap terjadi ketika Indonesia berada dalam kondisi kekosongan kekuasaan. Negara belum sepenuhnya terbentuk, norma belum melangkah secara betul dan optimal, sementara trauma kolonialisme tetap sangat membekas di akal rakyat. Di tengah situasi tersebut, Belanda datang kembali dengan niat mengambil alih kekuasaan nan baru saja diraih bangsa Indonesia.
Ketegangan pun tak terhindarkan. Laskar-laskar pemuda datang dimasyarakat dan bermunculan tanpa komando nan jelas dan terpusat. Teriakan “siap, siap” nan menggema di malam hari menjadi simbol kesiapsiagaan rakyat menghadapi ancaman kolonialisme. Namun, di kembali semangat mempertahankan kemerdekaan, kekerasan juga meluas ke ranah sipil.
Bang Robby menyoroti bahwa korban masa bersiap bukan hanya tentara, tetapi juga perempuan, anak-anak, orang tua, serta penduduk keturunan Belanda dan Indo-European. Penangkapan nan dilakukan pada masa ini terjadi tanpa adanya proses hukum, pengusiran massal, hingga penahanan di kamp-kamp darurat menjadi bagian dari realitas kelam masa tersebut. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan Medan menjadi saksi kekacauan itu.
Akibatnya, ratusan ribu penduduk Belanda dan keturunan Belanda memilih meninggalkan Indonesia, baik secara sukarela maupun terpaksa. Sementara mereka nan memperkuat untuk tetap tinggal di Indonesia memilih jalan sunyi dengan mengubur identitas, berasimilasi, dan melebur dengan masyarakat lokal. Seiring waktu, jejak keturunan Belanda pun memudar, meninggalkan hanya catatan sejarah dan ingatan kolektif.
7 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·