Kasus Katarak Telat Ditangani, Berakibat Fatal bagi Penglihatan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Kasus Katarak Telat Ditangani, Berakibat Fatal bagi Penglihatan (MI/M IQBAL AL MAHMUDI)

GANGGUAN penglihatan akibat katarak sering kali dianggap sebagai persoalan sepele nan hanya terjadi pada lansia. Banyak orang memilih untuk menunda pengobatan hingga kondisi mata betul-betul buram. 

Padahal, menunda penanganan katarak ber berisiko besar dan bisa memicu akibat nan jauh lebih rawan bagi kesehatan mata.

Dokter Spesialis Mata sekaligus Kepala Divisi Riset dan Pendidikan JEC Group (Head of Research and Medical Training Division), Nina Asrini Noor, menegaskan bahwa meski proses katarak hingga menyebabkan kebutaan permanen memerlukan waktu bertahun-tahun, masyarakat diimbau untuk tidak menunggu sampai kondisinya parah.

"Katarak bisa menjadi kebutaan permanen, butuh waktu bertahun-tahun tetapi jangan sampai menunggu parah. Saya sering menemukan kasus pasien nan datang sudah dalam kondisi parah," kata Nina dalam media briefing di Jakarta, Rabu (20/5).

Menurut Nina, semakin sigap operasi katarak dilakukan, maka proses pengobatan pasien juga bakal berjalan jauh lebih cepat. Oleh lantaran itu, dia meminta masyarakat untuk lebih peka, terutama jika ada personil family alias orang tua nan mulai mengeluhkan penglihatan buram.

Adapun aspek akibat dan indikasi katarak tidak hanya lantaran aspek penuaan. Ada beberapa aspek eksternal dan kondisi medis nan dapat memperparah serta mempercepat pembentukan katarak pada mata seseorang, antara lain diabetes, bangguan metabolisme pada penderita glukosuria dapat merusak mata akibat kebocoran pembuluh darah di saraf mata, sekaligus memperparah kondisi katarak dengan akibat tertentu.

Faktor lainnya seperti pPaparan sinar mentari (UV) terutama saat kondisi UV ekstrem, sangat berbahaya. Perlindungan mata seperti UV protection tetap wajib digunakan meski cuaca sedang mendung. Kemudian menggunakan obat tetes mata nan tidak dianjurkan alias tanpa resep master dapat memperburuk kondisi lensa mata.

Selain penglihatan nan mengabur, indikasi lain nan kerap mengganggu aktivitas sehari-hari adalah sensitivitas terhadap cahaya. Pasien katarak biasanya bakal merasa jauh lebih silau saat malam hari, nan tentu sangat membahayakan saat berkendara.

Fenomena menarik nan banyak ditemukan saat ini adalah katarak tidak lagi memandang usia. Banyak kasus katarak nan sekarang ditemukan pada usia muda, terutama mereka nan mempunyai riwayat minus tinggi.

"Memang katarak bukan (hanya) di lanjut usia, tapi ada juga di usia muda, alias ketika di usia muda mempunyai minus tinggi. Minus tinggi membikin katarak muncul sedikit lebih cepat," jelas Nina.

Bahkan, bagi perseorangan nan pernah menjalani prosedur lasik di usia muda namun mengeluhkan pandangan sering silau di malam hari, operasi katarak dapat menjadi opsi solusi jangka panjang. Setelah operasi dilakukan, kualitas penglihatan dan kualitas hidup pasien dipastikan bakal jauh lebih baik.

Sebagai langkah pencegahan, pemeriksaan mata standar sangat dianjurkan minimal 1 tahun sekali. Namun, jika Anda alias kerabat sudah merasakan adanya indikasi katarak alias penurunan kegunaan penglihatan, jangan menunda lagi dan segeralah berkonsultasi ke master ahli mata.

Secara global, katarak tetap menjadi salah satu tantangan terbesar kesehatan mata. World Health Organization (WHO) mencatat katarak memengaruhi lebih dari 100 juta orang di bumi pada 2020, dengan sekitar 17 juta di antaranya mengalami kebutaan. 

Di Indonesia, urgensi penanganan katarak juga tidak kalah besar. Kementerian Kesehatan RI merujuk hasil survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness alias RAAB 2014–2016 nan dilakukan oleh PERDAMI dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di 15 provinsi. Survei tersebut menunjukkan nomor kebutaan pada populasi usia 50 tahun ke atas mencapai 3 persen, dengan katarak sebagai penyebab tertinggi, ialah sekitar 81,2 persen kasus kebutaan. 

Dengan kata lain, katarak bukan hanya rumor klinis, tetapi juga rumor kualitas hidup, produktivitas, dan kemandirian masyarakat, khususnya pada golongan usia dewasa dan lanjut usia. (H-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia