Jakarta, CNBC Indonesia - Pengadilan di Plymouth, Massachusetts, menyatakan persidangan kasus Lindsay Clancy, ibu nan membunuh tiga anaknya, berhujung tanpa keputusan alias mistrial. Hal itu setelah majelis juri kandas mencapai kesepakatan meski sudah berdebat selama 40 jam dalam proses sidang nan berjalan selama tujuh minggu.
Melansir BBC International, kasus tersebut memicu perbedaan pendapat nan tajam di masyarakat Amerika Serikat, apalagi hingga terjadi di dalam lingkup keluarga.
Salah satu visitor sidang, Maryanne Drysdale, menceritakan bahwa dirinya dan sang putri menilai terdakwa butuh perawatan mental, sementara anak-anak laki-lakinya tetap menuntut balasan penjara lantaran menganggap perbuatan itu murni tindakan kriminal.
"Bagi mereka ini masalah hitam dan putih, Clancy membunuh anak-anaknya dan selesai sampai di situ. Saya membesarkan anak-anak ini, gimana mungkin kami bisa berpikir sangat berbeda tentang perihal ini?" ujar Drysdale, dilansir BBC International, dikutip Minggu (6/9/2026).
Lindsay Clancy menyebut dirinya mengalami fatamorgana dan ilusi sebelum mencekik Cora nan berumur 5 tahun, Dawson 3 tahun, serta Callan nan berumur 8 bulan.
Setelah kejadian tersebut, wanita berumur 36 tahun itu mencoba mengakhiri hidup dengan melompat dari jendela lantai dua hingga mengakibatkan tubuhnya lumpuh.
"Hanya butuh satu orang untuk mengubah narasi. Ini adalah masalah global, bukan hanya kota mini di Massachusetts, ini dialami wanita di mana-mana," kata pendukung Clancy, Jodi Fournier.
Tim pembela berdasar bahwa Clancy menderita psikosis pascapersalinan alias postpartum psychosis sehingga tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana. Namun, jaksa penuntut membeberkan info bahwa terdakwa menerima support medis nan jauh lebih banyak daripada ibu lainnya dan menuding pembunuhan tersebut dilakukan secara terencana.
"Lindsay Clancy tidak bisa menjadi simbol bagi ibu-ibu nan mengalami kesulitan, lantaran jutaan ibu melahirkan dan menanggung segala jenis kesulitan, namun mereka tidak menyakiti anak-anak mereka," tegas seorang ibu dari Texas, Nicole Russell.
Persidangan tersebut menghadirkan lebih dari 10 saksi mahir untuk membedah kondisi psikologis terdakwa dari beragam sisi. Beberapa saksi mahir dari pihak jaksa membantah klaim pembela dengan menyatakan bahwa terdakwa tidak menunjukkan tanda-tanda psikosis dalam belasan sesi perawatan sebelum kejadian terjadi.
"Terlepas dari apa nan dihadapi seseorang, saya rasa tidak ada waktu, alasan, alias pembenaran nan tepat untuk membunuh anak-anak Anda sendiri," pungkas visitor sidang lainnya, Vincenzo Vazquez.
Kasus ini juga menyeret mantan suami terdakwa, Patrick Clancy, nan menjadi sasaran kemarahan publik di media sosial meskipun dia telah memberikan kesaksian mengenai penurunan kondisi mental istrinya.
Status norma Lindsay Clancy saat ini tetap belum jelas dan menunggu agenda persidangan baru untuk menentukan apakah jaksa bakal melanjutkan tuntutan alias menempuh kesepakatan pembelaan.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·