Ilustrasi(Magnific)
DIABETES tidak lagi identik dengan usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus glukosuria pada usia muda terus meningkat dan menjadi perhatian para mahir kesehatan. Perubahan pola makan, kurang aktivitas fisik, hingga meningkatnya nomor obesitas disebut menjadi aspek utama nan memicu gangguan metabolik sejak usia remaja maupun dewasa muda.
Menurut International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita glukosuria dunia terus mengalami kenaikan setiap tahun. Diabetes jenis 2 nan sebelumnya lebih sering ditemukan pada orang dewasa sekarang mulai banyak terdiagnosis pada golongan usia produktif, apalagi remaja.
Diabetes terjadi ketika tubuh tidak bisa mengatur kadar gula darah secara normal. Pada glukosuria jenis 2, tubuh mengalami resistensi insulin sehingga gula menumpuk dalam aliran darah. Kondisi ini dapat berkembang perlahan dan sering tidak disadari pada tahap awal.
Beberapa indikasi umum glukosuria meliputi sering haus, sering buang air kecil, mudah lapar, sigap lelah, penglihatan kabur, serta luka nan susah sembuh. Pada sebagian orang, penurunan berat badan tanpa karena jelas juga dapat menjadi tanda gangguan metabolik.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut banyak penderita glukosuria usia muda baru mengetahui kondisinya setelah muncul komplikasi. Karena itu, pemeriksaan gula darah secara rutin menjadi langkah krusial untuk mendeteksi penyakit sejak dini, terutama bagi perseorangan dengan riwayat family glukosuria alias obesitas.
Pemeriksaan kadar gula darah dapat dilakukan melalui tes gula darah puasa, tes gula darah sewaktu, maupun HbA1c nan menunjukkan rata-rata kadar gula darah dalam beberapa bulan terakhir. Deteksi awal membantu master memberikan penanganan lebih sigap sebelum komplikasi berkembang.
Jika tidak dikontrol, glukosuria dapat meningkatkan akibat penyakit jantung, kerusakan ginjal, gangguan saraf, hingga masalah penglihatan. WHO menilai glukosuria menjadi salah satu penyakit kronis dengan nomor kematian dan komplikasi nan terus meningkat di beragam negara.
Para mahir kesehatan menekankan pentingnya menjaga kesehatan metabolik sejak usia muda. Pola makan seimbang, mengurangi konsumsi gula berlebih, rutin berolahraga, tidur cukup, dan menjaga berat badan ideal dinilai efektif membantu menurunkan akibat diabetes.
Meningkatnya kasus glukosuria usia muda menunjukkan bahwa penyakit metabolik sekarang menjadi ancaman lintas usia. Dengan mengenali indikasi lebih awal dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, akibat komplikasi serius dapat ditekan sekaligus meningkatkan kualitas hidup penderita. (International Diabetes Federation (IDF)/World Health Organization (WHO)/Centers for Disease Control and Prevention (CDC)/American Diabetes Association/National Institutes of Health (NIH)/
English (US) ·
Indonesian (ID) ·