Kemenkes berbareng Enesis Group menggelar Indonesia Pionir Gerakan Bebas Dengue di ASEAN.(Kemenkes)
Kasus demam berdarah dengue (DBD) tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan info Kementerian Kesehatan, sepanjang 2025 tercatat 161.752 kasus dengan 673 kematian. Sementara hingga pertengahan 2026, jumlah kasus mencapai 39.672 dengan 105 kematian, di mana golongan usia 5–14 tahun menyumbang sekitar 41 persen dari total korban meninggal.
Untuk memperkuat upaya pencegahan, Enesis Group kembali bekerja-sama dengan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan Jakarta dalam program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berjudul ASEAN Dengue Day 2026. Program ini difokuskan pada edukasi promotif dan preventif guna mendukung sasaran Indonesia Zero Dengue Death 2030. Mengusung tema Indonesia Pionir Gerakan Bebas Dengue di ASEAN, aktivitas diwujudkan melalui roadshow edukasi di sejumlah sekolah dasar, ialah SDN 03 dan SDN 05 Tanah Tinggi, SDN 20 Utan Kayu Selatan, serta SDN 02 Mampang Prapatan.
Dalam aktivitas tersebut, para siswa mendapatkan edukasi interaktif mengenai Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M+, ialah menguras tempat penampungan air, menutup wadah penampungan air, mendaur ulang peralatan jejak nan berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta pentingnya melindungi diri dari gigitan nyamuk sebagai langkah pencegahan tambahan.
Gerakan 3M+ dinilai sebagai langkah sederhana namun efektif untuk menekan penyebaran DBD. Menguras tempat penampungan air secara rutin dapat memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, sementara menutup wadah air mencegah nyamuk bertelur. Di sisi lain, mendaur ulang alias membuang peralatan jejak nan dapat menampung air hujan membantu menghilangkan potensi sarang nyamuk di lingkungan sekitar.
Mewakili Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Agus Handito menegaskan keberhasilan pengendalian dengue tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Menurutnya, diperlukan keterlibatan aktif pemerintah daerah, bumi pendidikan, akademisi, organisasi profesi, masyarakat, hingga sektor swasta agar upaya pencegahan melangkah efektif.
"Keberhasilan penanggulangan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, bumi pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, dan seluruh mitra pembangunan. Pendekatan kolaboratif berbasis bukti kudu menjadi landasan dalam setiap penerapan program menuju sasaran Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030," ujar Agus Handito.
Head of Human Resources, Services and Public Relations Enesis Group, RM Ardiantara, mengatakan Gerakan 3M+ perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar kampanye sesaat. Menurutnya, lingkungan nan bersih perlu diimbangi dengan perlindungan diri dari gigitan nyamuk agar upaya pencegahan menjadi lebih optimal.
Ia berambisi kebiasaan tersebut dapat diterapkan secara konsisten di sekolah, rumah, maupun lingkungan masyarakat. Sebagai perusahaan nan juga beraksi di sejumlah negara ASEAN, Enesis Group berambisi aktivitas pencegahan dengue nan dimulai dari Indonesia dapat menginspirasi lahirnya inisiatif serupa di negara-negara lain di kawasan.
Melalui kerjasama antara pemerintah, bumi usaha, dan masyarakat, program edukasi ini diharapkan bisa memperkuat budaya pencegahan DBD sejak usia awal sekaligus mendukung tercapainya sasaran Indonesia bebas kematian akibat dengue pada 2030. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·