Liputan6.com, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk segera menerapkan prinsip Bantuan Hidup Dasar (BHD) saat memberikan pertolongan pertama pada anak nan mengalami sengatan listrik (kesetrum). Hal ini krusial untuk meningkatkan kesempatan keselamatan korban sebelum mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Ketua Umum PP IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menegaskan bahwa penanganan awal pada korban kesetrum kudu berfokus pada pemeriksaan tiga poin utama kegawatdaruratan, ialah jalan napas (airway), pola napas (breathing), dan sirkulasi darah (circulation).
Piprim menyayangkan kebiasaan salah di masyarakat nan justru melakukan tindakan tidak tepat saat menghadapi kepanikan, seperti menggosokkan minyak alias memberikan cairan dengan langkah berbahaya.
"Anak kesetrum kudu ditangani sesuai standar awal kegawatdaruratan, ialah Airway alias jalan napas, Breathing alias pola napas, dan Circulation alias sirkulasi. Seringkali orang malah sibuk menggosokkan minyak, padahal nan utama adalah memastikan jalan napasnya kondusif dan sirkulasi jantungnya terjaga," ujar Piprim di sela aktivitas puncak HUT ke-72 IDAI di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Minggu (14/6/2026).
Piprim menjelaskan, andaikan korban tidak memberikan respons usai tersengat listrik, masyarakat perlu segera melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) sebagai bagian dari BHD sembari menunggu support medis datang.
Kasus Bocah Komba Akibat Setruman di Senen
Imbauan dari IDAI ini menjadi sangat relevan menyusul kasus tragis nan menimpa MWP (6), seorang bocah asal Kelurahan Kramat, Senen, Jakarta Pusat. MWP sempat mengalami koma dan kritis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah tersengat listrik dari tiang di Taman Kramat Pulo pada Minggu (7/6/2026) malam.
Ironisnya, kejadian tersengat listrik tersebut diduga terjadi setelah korban mengalami persekusi dan bullying oleh teman-teman serta dua remaja di area taman tersebut.
Berdasarkan rekaman CCTV, korban nan mengenakan busana merah tampak dipegang, diangkat, lampau diseret oleh dua remaja menuju tiang lampu taman nan rupanya mengalami kebocoran arus listrik. Tubuh dan kaki korban ditempelkan ke tiang tersebut hingga korban mengalami kejang-kejang lampau pingsan.
Ibu korban, Vira, sempat panik luar biasa lantaran setibanya di rumah sakit, MWP apalagi sempat berakhir bernapas sebelum akhirnya mendapat penanganan intensif di ruang ICU.
Keluarga korban juga menyayangkan penanganan awal nan keliru di lapangan saat korban pingsan. Menurut pihak keluarga, korban sempat disiram air dan dipaksa diberi susu cair melalui lubang hidung saat kondisinya sedang tidak sadarkan diri.
Polisi Turun Tangan, Usut Para Pelaku
Kondisi MWP saat ini dilaporkan telah membaik. Setelah sadar dari komanya, bocah malang tersebut membuka cerita kelam bahwa dirinya kerap menjadi korban kekerasan dan pemerasan oleh golongan bermainnya.
"Besok harinya dia bilang, 'Mama, saya kemarin lenyap digebuk sama teman-teman'. Katanya jika main ke lapangan kudu minta duit dulu. Kalau saya enggak dikasih uang, saya enggak ditemenin sama mereka," tutur Vira menirukan pengakuan anaknya.
Kasus ini sekarang tengah ditangani secara serius oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Pusat. Keluarga korban telah resmi membikin laporan polisi untuk mengusut tuntas unsur kesengajaan dalam peristiwa ini.
Kasatres PPA-PPO Polres Metro Jakarta Pusat, Komisaris Rita Oktavia Shinta, mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang mendalami kronologi penjebakan tersebut berasas pemeriksaan awal dan bukti rekaman di lapangan.
”Keterangan sementara dari keluarga, anak ini sedang bermain di taman berbareng teman-temannya. Kemudian ada beberapa temannya memegang tangan dan kakinya, lampau diangkat. Setelah itu, kakinya dimasukkan ke tiang,” kata Rita.
Meski demikian, Rita menyampaikan bahwa interogator tetap melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan apakah anak-anak nan menggotong korban sudah mengetahui sejak awal bahwa tiang taman tersebut bergolongan listrik alias tidak.
Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·