Karhutla Sulawesi Tengah 2026: Hotspot Melonjak 205 Persen dan Status Siaga

Sedang Trending 12 menit yang lalu
 Hotspot Melonjak 205 Persen dan Status Siaga Ilustrasi(Dok Istimewa)

Kebakaran rimba dan lahan (karhutla) menakut-nakuti wilayah Sulawesi Tengah seiring dengan datangnya musim kemarau 2026. Berdasarkan info SiPongi Kementerian Kehutanan nan merujuk pada pantauan satelit Terra/Aqua NASA, tercatat sebanyak 1.007 titik panas (hotspot) di wilayah tersebut selama periode 1 Januari hingga 15 Juni 2026.

Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 205 persen dibandingkan periode nan sama pada tahun 2025, nan hanya mencatat 330 titik panas. Peningkatan jumlah hotspot ini berbanding lurus dengan luas area nan terdampak api.

Rekor Luas Lahan Terbakar Sejak 2019

Sepanjang semester pertama tahun 2026 (Januari–Juni), karhutla telah menghanguskan sedikitnya 4.147 hektare lahan di Sulawesi Tengah. Angka ini merupakan catatan tertinggi sejak tahun 2019, sekaligus menempatkan Sulawesi Tengah ke dalam daftar 10 besar provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak di Indonesia.

Kabupaten Tojo Unauna menjadi salah satu wilayah dengan akibat terparah. Pada 17 Agustus 2026, kebakaran dahsyat melanda area Gunung Kalendang, Desa Balinggara, nan menghanguskan sekitar 20 hektare lahan. Insiden ini merupakan kejadian berulang setelah peristiwa serupa terjadi di letak nan sama pada akhir Juli 2026.

Merespons eskalasi tersebut, Bupati Tojo Unauna telah menerbitkan Surat Keputusan Nomor 100.3.3.2/20/BPBD/2026 tertanggal 19 Agustus 2026 mengenai penetapan status Siaga Darurat Bencana Karhutla. Selain Tojo Unauna, info NASA FIRMS mengonfirmasi sebaran titik api juga meluas ke sejumlah wilayah lain seperti Morowali, Banggai, Poso, Banggai Kepulauan, Buol, dan Tolitoli.

Desakan Koalisi Masyarakat Sipil

Kondisi darurat ini memicu koalisi enam organisasi masyarakat sipil—terdiri dari Karsa Institute, IMUNITAS, KOMIU, Libu Perempuan, Perkumpulan Evergreen Indonesia, dan ROA—untuk merilis pernyataan sikap berbareng di Kota Palu, Sabtu (22/8).

Direktur Eksekutif Karsa Institute, Rahmat Saleh, memperingatkan bahwa kejadian El Nino 2026 berisiko memicu karhutla terbesar dalam satu dasawarsa terakhir di Sulawesi Tengah. "Kami mendesak pemerintah wilayah segera mengaktifkan posko terpadu tanggap darurat di tingkat kabupaten hingga kecamatan," tegas Rahmat.

7 Langkah Strategis Mitigasi Berbasis Desa:

  • Sistem Peringatan Dini: Integrasi prediksi cuaca dengan pantauan satelit hotspot secara real-time.
  • Kapasitas Warga: Pelatihan intensif bagi penduduk desa untuk penemuan awal dan tindakan pemadaman awal.
  • Pertanian Tanpa Bakar: Sosialisasi dan penerapan metode olah lahan ramah lingkungan.
  • Aturan Desa: Penyusunan izin lokal nan mengikat mengenai pencegahan kebakaran.
  • Perlindungan Ekosistem: Menjaga keanekaragaman hayati dan area rimba tutupan secara ketat.
  • Integrasi Perencanaan: Memasukkan alokasi anggaran akibat karhutla dalam APBD dan APBDes.
  • Sinergi Lintas Sektor: Memperkuat kerjasama antara Pemda, KPH, abdi negara penegak hukum, akademisi, dan masyarakat sipil.

Koalisi berambisi langkah-langkah strategis ini dapat segera diimplementasikan guna mencegah kerusakan lingkungan nan lebih luas serta melindungi ruang hidup masyarakat dari ancaman kabut asap dan kehilangan keanekaragaman hayati.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia