Karhutla di Berau Kaltim Diklaim Tak Ancam Habitat Orangutan

Sedang Trending 51 menit yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyatakan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan terjadi di Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) tidak menakut-nakuti kediaman orangutan.

"Hari ini saya datang ke Berau untuk memastikan bahwa Karhutla tidak hanya berakibat negatif kepada masyarakat, tapi juga jangan sampai berakibat negatif terhadap satwa liar kita, terutama orangutan nan menjadi kebanggaan Kalimantan Timur, Berau, apalagi dunia," kata Juli dalam keterangannya, Rabu (26/8).

Raja Juli mengatakan pemerintah saat ini terus berupaya mengantisipasi, mencegah, dan melakukan pemadaman Karhutla.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut kondisi cuaca tahun ini menjadi perhatian serius lantaran El Nino datang lebih sigap dengan skala nan sangat kuat menurut BMKG.

"Kita tahu bahwa Karhutla nan terjadi pada tahun ini lantaran perubahan suasana nan luar biasa. Biasanya El Nino itu datangnya 4 tahun sekali, nan paling kita catat itu 2015, loncat 4 tahun 2019, lampau 2023. Mestinya baru tahun depan El Nino ini datang, tapi perubahan suasana itu riil," tutur dia.

Raja Juli turut menegaskan perlindungan masyarakat dan satwa liar menjadi bagian krusial dalam penanganan Karhutla. Karenanya, dia meminta area kediaman orangutan dikawal dari ancaman Karhutla.

"Kita juga kudu kawal area ini dari Karhutla dengan patroli rutin," ucap dia.

Raja Juli juga diketahui menyiapkan area preservasi koridor orangutan lanskap keraitan untuk menyelamatkan kediaman orangutan. Hal ini dilakukan berbareng dengan Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam nan dikelola oleh Conservation Action Netwok (CAN) dan mitra konservasi lainnya.

Diketahui, karhutla di Kalimantan tidak hanya menakut-nakuti manusia, tetapi juga satwa liar termasuk hewan endemik Indonesia, orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Kalimantan menjadi rumah bagi sekitar 57.350 perseorangan orangutan Kalimantan alias orangutan borneo. Data ini diambil dari hasil Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016 nan dijalankan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI berbareng sejumlah lembaga dan praktisi-pemerhati konservasi orangutan.

Jumlah ini mengalami penurunan sebanyak 80 persen dalam waktu kurang dari 50 tahun. Mengutip dari laman Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, populasi orangutan diestimasi berjumlah 288.500 pada tahun 1973.

CEO Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, Jamartin Sihite mengatakan persebaran titik api karhutla ini dilaporkan sudah mulai mendekat ke kediaman orangutan, nan umumnya berada di dataran rendah.

"Di Kalimantan Barat sudah, di Kalimantan Tengah juga sudah mulai mendekat ke pusat-pusat populasi seperti dekat ke Taman Nasional Sebangau, di wilayah Pulang Pisau, ini daerah-daerah nan juga ada orangutannya, dan cukup besar," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Jumat (21/8).

Namun, tak hanya api karhutla nan menjadi permasalahan, melainkan juga asapnya. Bagi manusia, paparan asap karhutla mungkin bisa dikurangi dengan menggunakan masker, namun perihal nan sama tak bertindak bagi orangutan dan kediaman tempat mereka hidup.

Jamartin menjelaskan asap karhutla berpengaruh terhadap kegunaan polinasi lebah dan tanaman di hutan. Fenomena ini dapat berujung pada semakin hilangnya sumber makanan orangutan.

"Data kami menunjukkan, di pusat penelitian kita di Tuanan, semakin panjang masa asap, semakin mini kesempatan tanaman di rimba berbunga dan berbuah. Artinya ketika asap besar, maka kesempatan orangutan kelak kehilangan makanan, itu cukup besar juga," jelasnya.

(dis/dal)

placeholder

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional