Jakarta, CNN Indonesia --
Kapolda Papua Barat Irjen Polisi Alfred Papare meminta masyarakat tidak terprovokasi rumor "Black September" nan dikaitkan dengan rencana tindakan unjuk rasa.
Ia memastikan kepolisian telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah tersebut.
"Saya mengimbau masyarakat di wilayah Papua Barat jangan terprovokasi dengan isu-isu nan dibawa sebagai agenda 'Black September'. Kami bakal tindak tegas jika ada nan terprovokasi," kata Alfred di Manokwari, Kamis (10/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alfred mengatakan kepolisian mendapat info mengenai rayuan untuk menggelar demonstrasi dalam skala besar nan beredar melalui sejumlah kanal media sosial. Untuk mengantisipasi perihal tersebut, polisi telah berkoordinasi dengan beragam pihak.
Koordinasi dilakukan berbareng tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga tokoh pemuda. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan situasi keamanan di Papua Barat tetap kondusif.
"Kita ketahui berbareng bahwa Papua Barat ini wilayah nan kondusif dan tenteram. Pengawasan bakal kami tingkatkan untuk penemuan boncengan rumor dalam setiap tindakan unjuk rasa," ujarnya.
Di sisi lain, Alfred menegaskan kepolisian tetap menghormati kewenangan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Namun, penyampaian pendapat di muka umum kudu dilakukan sesuai ketentuan norma nan berlaku.
Masyarakat nan hendak menggelar demonstrasi juga diingatkan untuk memenuhi tanggungjawab pemberitahuan kepada kepolisian serta menjaga ketertiban selama tindakan berlangsung.
Menurut Alfred, kepatuhan terhadap patokan tersebut menjadi bagian dari upaya berbareng untuk mempertahankan stabilitas keamanan Papua Barat. Dengan demikian, aktivitas masyarakat dan pembangunan di wilayah tidak terganggu.
Kapolda Papua Barat juga menyoroti tindakan pemalangan jalan nan sebelumnya terjadi di sejumlah letak di Manokwari. Ia meminta kejadian serupa tidak kembali terulang lantaran berakibat terhadap aktivitas warga.
"Seperti beberapa hari lampau di Manokwari ada tindakan pemalangan empat titik. Itu tidak boleh terjadi lagi. Saya tidak mentolerir lantaran menghalang aktivitas masyarakat," katanya.
Sebelumnya, rumor "Black September" juga menjadi perhatian Polri. Wakapolri Komjen Polisi Dedi Prasetyo meminta jejeran kepolisian melakukan antisipasi terhadap potensi demonstrasi nan diperkirakan berjalan pada 24 September 2026.
Tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Tani Nasional dan peringatan peristiwa Semanggi II.
(antara/isn)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·