Kapan Harus Berhenti Lari Sebelum Tumbang? Ini Kata Dokter Spesialis Olahraga

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi wanita lari. Foto: BongkarnGraphic/Shutterstock

Saat ini, lari menjadi bagian olahraga nan digemari beragam kalangan, dari generasi muda hingga lansia. Tak hanya mudah dilakukan, olahraga kardio ini mempunyai segudang faedah kesehatan fisik. Meski begitu, ada momen di mana lari bisa rawan bagi kondisimu.

Dilansir WebMD, olahraga lari bisa memperkuat jantung dan mendorong kesehatan kardiovaskular. Menurut sebuah studi, akibat pelari meninggal bumi akibat penyakit jantung 50 persen lebih rendah daripada orang nan tidak giat berlari. Tak hanya itu, lari bisa memperkuat otot, memperbaiki pola tidur, serta meningkatkan suasana hati.

Namun, lari bisa menjadi rawan jika tidak dilakukan dengan benar. Jika tidak mengenali sinyal-sinyal nan diberikan oleh tubuh, besar akibat seseorang mengalami cedera dan pingsan namalain “tumbang”. Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andi Kurniawan, Sp.KO, saat diwawancarai kumparanWOMAN.

Ilustrasi nyeri otot setelah lari. Foto: Asian Isolated/Shutterstock

dr. Andi mengatakan, dalam berlari, perihal nan terpenting adalah mendengarkan tubuh dan indikasi nan ditunjukkan tubuh saat berlari, bukan melulu nomor heart rate (detak jantung) nan ditampilkan oleh smartwatch.

“Saya selalu tekankan kepada runner bahwa nan paling bisa diandalkan itu indikasi pada tubuh. Jadi, listen to your body, bukan hanya nomor di jam tangan,” jelas Andi pada Jumat (5/6).

Menurut Andi, ada beberapa indikasi tubuh nan menjadi indikasi bahwa seorang pelari kudu segera menghentikan larinya. nan pertama adalah nyeri alias rasa berat di bagian dada, termasuk jika rasa nyerinya sudah menjalar ke rahang, lengan kiri, dan punggung.

“Lalu, sesak napas alias kesulitan bernapas nan tidak wajar dibanding intensitas nan sedang dijalani. Selanjutnya adalah pusing berputar alias rasa mau pingsan atau near-syncope, termasuk jantung berdebar tidak beraturan alias palpitasi,” ungkap Andi.

Ilustrasi wanita pingsan. Foto: Nattanan Zia/Shutterstock

Keringat dingin, rasa mual, hingga pandangan nan mulai kabur juga menjadi penanda bahwa lari kudu segera dihentikan. Jika berlari di area dengan udara panas seperti di Jakarta, indikasi heat stroke juga wajib diwaspadai.

“Di suasana tropis Jakarta, tambahkan tanda heat illness, ialah rasa bingung dan disorientasi. Itu adalah red flag dari heat stroke. Kalau muncul salah satu indikasi di atas, berhentilah; berapa pun nomor di jam pintar. Gejala mengalahkan angka,” tegas Andi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan