Jakarta -
Kapal tanpa awak kerap dipakai oleh militer Amerika Serikat (AS) untuk memperluas serangan di wilayah musuh. Kapal tanpa awak ini bisa masuk ke wilayah musuh dengan efektif.
Dikutip dari laman Naval Sea Systems Command (NAVSEA), LUSV (Large Unmanned Surface Vessel) alias kapal permukaan tanpa awak berukuran besar, memang dirancang dengan konsentrasi utama untuk memperluas kapabilitas serangan di laut (afloat strike) serta peperangan anti-permukaan (anti-surface warfare) dalam mendukung kapal perang berawak.
Meskipun dirancang untuk misi serangan, pengoperasian senjatanya mempunyai patokan unik menurut spesifikasi militer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
LUSV bisa bernavigasi secara berdikari (otonom), namun seluruh penggunaan senjata (weapons employment) wajib diperintahkan dan dikendalikan dari jarak jauh oleh stasiun kontrol alias kapal perang berawak nan mempunyai kru.
Manusia tetap dilibatkan dalam sistem kendali, baik sebagai operator nan mengontrol langsung (in the loop) maupun pengawas tindakan (on the loop) saat mengoperasikan mesin dan bermanuver.
Selain itu, AS juga mempunyai Overlord Unmanned Surface Vessels (OUSV). OUSV merupakan program purwarupa nan dikelola oleh Program Executive Office Unmanned and Small Combatants (PEO USC) untuk mendukung pengembangan teknis program USV.
Kapal ini dioperasikan oleh kontraktor berbareng dengan Surface Development Group ONE (SURFDEVGRU 1) dan Unmanned Surface Vessel Squadron ONE (USVRON 1) untuk mengembangkan konsep operasi, taktik, prosedur, serta integrasi armada
OUSV dapat beraksi secara berdikari maupun berbareng kapal tempur berawak. OUSV juga telah bergabung dengan armada tempur dalam latihan Rim of the Pacific (RIMPAC) 2022 serta penugasan ke Pasifik Barat (termasuk Jepang dan Australia) dalam latihan Autonomous Warrior.
(rdp/imk)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·