Kap Mobil Kini Didesain Melandai Tak Lagi Mengotak-Datar, Apa Alasannya?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Honda Brio di GIIAS 2023. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Coba perhatikan corak bagian depan mobil nan beredar saat ini. Pada banyak model, kap mobil alias bonnet tidak lagi dibuat mengotak dengan permukaan nan relatif mendatar. Garis dari ujung depan mobil menuju kaca depan justru dibuat lebih membulat dan landai.

Perubahan tersebut bukan sekadar permainan desain. Ada kebutuhan aerodinamika, keselamatan pejalan kaki, visibilitas pengemudi, hingga penempatan komponen nan ikut menentukan corak bonnet.

Pakar Desain Produk dan Pengamat Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan kreasi bagian depan kendaraan merupakan hasil kompromi dari sejumlah kebutuhan teknis.

"Desain bonnet alias kap mesin nan semakin rendah dan melandai merupakan kompromi antara aerodinamika, keselamatan pejalan kaki, visibilitas, dan kebutuhan ruang komponen," ujar Yannes saat dihubungi kumparan, Rabu (16/9/2026).

Salah satu pertimbangannya adalah aerodinamika. Bentuk bagian depan kendaraan berpengaruh terhadap gimana udara mengalir dari hidung mobil menuju kaca depan dan bagian bodi lainnya.

Media first drive mobil listrik BAIC T1 Jakarta-Bandung, (18-19/8/2026). Foto: Sena Pratama/kumparan

"Dari sisi aerodinamika, hidung nan lebih landai membantu aliran udara bergerak lebih lembut menuju kaca depan sehingga halangan udara dapat ditekan," lanjut pengamat otomotif jebolan ITB tersebut.

Hambatan udara nan lebih rendah dapat membantu efisiensi kendaraan, terutama ketika melaju pada kecepatan nan lebih tinggi. Karena itu, kreasi bagian depan tidak hanya dibuat untuk menghasilkan tampilan nan lebih modern, tetapi juga mempertimbangkan gimana bodi kendaraan berhadapan dengan aliran udara.

Di sisi lain, corak bonnet juga berangkaian dengan keselamatan ketika kendaraan mengalami tumbukan dengan pejalan kaki. Kap mesin tidak hanya berfaedah sebagai penutup ruang mesin, tetapi juga menjadi salah satu bagian nan diperhitungkan dalam rancangan keselamatan kendaraan.

"Dari sisi keselamatan, bagian depan nan lebih rendah dan membulat juga membantu mengurangi tingkat cedera ketika terjadi tumbukan dengan pejalan kaki, lantaran kap dan struktur di bawahnya dirancang mempunyai ruang deformasi tertentu," terang Yannes.

Deretan mobil Mercedes-Benz nan menggunakan platform NGCC. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Ruang tersebut menjadi krusial lantaran permukaan kap tidak dirancang untuk langsung berjumpa dengan komponen keras di bawahnya ketika terjadi benturan. Struktur bodi dan komponen di kembali kap kudu dikemas sedemikian rupa agar tersedia ruang untuk menyerap daya benturan.

Desain bagian depan nan lebih rendah juga dapat memberikan untung bagi visibilitas pengemudi. Jarak pandang terhadap area tepat di depan kendaraan bisa menjadi lebih baik, terutama ketika mobil digunakan untuk bermanuver di ruang nan sempit.

"Kap nan rendah sekaligus dapat memperkecil area nan tidak terlihat (blind spot) tepat di depan kendaraan, terutama pada SUV," tambahnya.

Meski begitu, pabrikan tidak bisa begitu saja membikin kap mesin serendah mungkin. Di kembali bonnet terdapat beragam komponen nan memerlukan ruang, sementara bagian bawah kendaraan juga kudu memenuhi kebutuhan struktur, suspensi dan ground clearance.

"Tetapi desainnya tidak bisa terus dibuat rendah, lantaran tetap ada kebutuhan ground clearance dan ruang komponen," jelas Yannes mengenai batas teknis ruang mesin.

Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid jenis trondol. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Keterbatasan tersebut membikin rancangan kendaraan modern menjadi semacam kompromi antara corak bodi dan kebutuhan teknis. Kap nan lebih rendah dapat membantu aerodinamika dan visibilitas, tetapi tetap kudu menyediakan ruang nan cukup untuk komponen serta memenuhi persyaratan keselamatan.

Untuk mengatasi keterbatasan ruang deformasi tanpa kudu meningkatkan kembali posisi kap, sejumlah kendaraan modern juga menggunakan teknologi keselamatan aktif.

"Itu sebabnya beberapa kendaraan menggunakan teknologi seperti active bonnet, nan dapat sedikit terangkat ketika sistem mendeteksi tumbukan dengan pejalan kaki untuk menyediakan ruang deformasi tambahan," pungkas Yannes.

Teknologi tersebut memungkinkan bagian kap berubah posisi ketika sistem mendeteksi potensi benturan. Dengan begitu, kreasi bagian depan kendaraan bisa tetap dibuat rendah dan landai tanpa mengabaikan kebutuhan ruang deformasi untuk keselamatan pejalan kaki.

Meski begitu, tidak semua mobil mengikuti kecenderungan tersebut. SUV nan dirancang untuk kebutuhan off-road seperti Land Cruiser alias G-Class tetap mempertahankan bonnet nan tinggi dan relatif datar lantaran corak bodinya kudu mengakomodasi karakter kendaraan, posisi berkendara, ground clearance, hingga kebutuhan komponen di bagian depan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan