Kanker Payudara dan Serviks Bisa Diam-Diam Berkembang, Jangan Tunggu Sampai Muncul Gejala

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Kanker Payudara dan Serviks Bisa Diam-Diam Berkembang, Jangan Tunggu Sampai Muncul Gejala Ilustrasi(Magnific)

KANKER payudara dan kanker serviks sama-sama menjadi perhatian besar bagi kesehatan perempuan. Namun, keduanya bukan penyakit nan sama. Kanker tetek bermulai dari pertumbuhan sel abnormal di jaringan payudara, sedangkan kanker serviks berkembang pada leher rahim dan sebagian besar kasusnya berangkaian dengan jangkitan HPV berisiko tinggi nan menetap.

Meski berbeda penyebab dan lokasi, keduanya mempunyai satu perihal penting: semakin awal perubahan ditemukan, semakin besar kesempatan untuk mendapatkan penanganan nan tepat. Thomson Medical dalam artikelnya tentang perbedaan kanker tetek dan serviks menekankan pentingnya mengenali perubahan tubuh sekaligus menjalani pemeriksaan secara rutin.

Kanker Payudara Tidak Selalu Ditandai Benjolan Sakit

Kanker tetek terjadi ketika sel-sel di tetek tumbuh tidak terkendali dan membentuk tumor. Perubahan tersebut umumnya bermulai dari saluran alias kelenjar penghasil ASI.

Salah satu tanda nan paling dikenal adalah munculnya benjolan alias penebalan baru di tetek maupun ketiak. Namun, perubahan tidak berakhir pada benjolan saja.

Menurut Thomson Medical, perubahan ukuran alias corak payudara, kulit nan memerah alias berlekuk, kulit mengelupas, puting tertarik ke dalam, hingga keluarnya cairan nan tidak normal dari puting juga perlu diperhatikan. Rasa sakit pada tetek dapat terjadi, tetapi banyak benjolan kanker justru tidak menimbulkan rasa sakit.

Karena itu, dugaan bahwa kanker tetek baru perlu dicurigai ketika muncul benjolan besar alias rasa nyeri bisa membikin seseorang terlambat memeriksakan diri.

Kanker Serviks Bisa Berkembang Tanpa Tanda Awal

Berbeda dengan kanker payudara, kanker serviks sering berkembang secara perlahan dan pada tahap awal dapat tidak menimbulkan indikasi nan jelas. Kondisi ini menjadi salah satu argumen kenapa pemeriksaan rutin sangat penting.

Kanker serviks berkembang pada leher rahim dan sebagian besar kasusnya berangkaian dengan jangkitan jangka panjang oleh HPV berisiko tinggi. Tidak semua jangkitan HPV berkembang menjadi kanker, tetapi jangkitan nan menetap dapat menyebabkan perubahan sel nan kemudian berkembang menjadi kanker.

Ketika indikasi mulai muncul, tanda nan perlu diperhatikan antara lain perdarahan memek nan tidak biasa, seperti di antara periode menstruasi, setelah berasosiasi seksual, alias setelah menopause. Perubahan cairan vagina, nyeri saat berasosiasi seksual, serta nyeri pada panggul alias punggung juga dapat menjadi tanda nan perlu diperiksa.

Jangan Menunggu Sampai Gejala Muncul

Inilah argumen kenapa pemeriksaan kesehatan tidak semestinya hanya dilakukan ketika tubuh sudah memberikan sinyal nan mengkhawatirkan.

Thomson Medical menjelaskan skrining dapat membantu menemukan perubahan alias kanker pada tahap ketika penanganannya tetap lebih memungkinkan. Untuk kanker payudara, mammogram merupakan salah satu metode skrining. Sementara untuk kanker serviks, pemeriksaan seperti Pap smear dan tes HPV digunakan untuk mendeteksi perubahan pada leher rahim.

Jadwal pemeriksaan dapat berbeda berasas usia, kondisi kesehatan, aspek risiko, serta pedoman kesehatan nan berlaku. Karena itu, sebaiknya konsultasikan pilihan dan agenda skrining dengan tenaga kesehatan.

Keduanya Tidak Saling Berubah Menjadi Satu Sama Lain

Meski sering dibahas bersamaan, kanker tetek dan kanker serviks mempunyai penyebab utama nan berbeda. Kanker tetek dapat dipengaruhi oleh aspek usia, genetik, dan beragam aspek lainnya, sedangkan kanker serviks terutama berangkaian dengan jangkitan HPV berisiko tinggi nan menetap.

Kanker tetek juga tidak berubah menjadi kanker serviks. Dalam kondisi nan sangat jarang, sel kanker tetek dapat menyebar ke organ lain, tetapi jika ditemukan di leher rahim, sel tersebut tetap merupakan sel kanker tetek nan mengalami metastasis, bukan berubah menjadi kanker serviks.

Deteksi Dini Adalah Langkah Penting

Tidak semua perubahan pada tetek alias organ reproduksi berfaedah kanker. Namun, perubahan nan baru muncul dan tidak biasa sebaiknya tidak diabaikan.

Kabar baiknya, kedua jenis kanker tersebut mempunyai kesempatan penanganan nan lebih baik ketika ditemukan pada tahap awal. Thomson Medical mencatat bahwa tingkat keparahan kanker sangat dipengaruhi oleh stadium ketika penyakit pertama kali ditemukan.

Jadi, jangan menunggu sampai indikasi menjadi berat. Mengenali perubahan tubuh, melakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika menemukan sesuatu nan tidak biasa merupakan langkah sederhana nan dapat membantu menjaga kesehatan dalam jangka panjang. (Thomson Medical/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia