Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang masih terjadi di dunia. Setidaknya ini terlihat dari eskalasi Kanada dan Amerika Serikat (AS).
Selasa (8/9/2026), Kanada menerapkan tarif jawaban terhadap beragam produk AS. Perundingan perdagangan kedua negara kandas bulan lampau dan hubungan Washington dan Ottawa semakin buruk.
Mengutip CNBC International, besaran tarif berkisar antara 15% hingga 50% untuk ratusan produk AS dengan nilai total US$27,6 miliar (sekitar Rp487,22 triliun). Produk-produk itu termasuk susu, peralatan pertanian, kertas, peralatan rumah tangga, dan elektronik.
Tarif Kanada atas produk baja, aluminium, dan besi AS naik dua kali lipat menjadi 50%. Furnitur, sepeda motor, pakaian, dan sejumlah produk kecantikan juga termasuk di antara peralatan nan dikenakan tarif tertinggi.
Kanada menyebut langkah ini sebagai respons setara (dollar-for-dollar) terhadap pungutan AS atas produk-produk negeri itu sebelumnya. AS menerapkan tarif ke peralatan Kanada sesuai dengan Section 301, Pasal dalam Trade Act of 1974 nan memberi kewenangan kepada pemerintah AS, melalui U.S. Trade Representative (USTR), untuk menyelidiki dan mengambil tindakan terhadap praktik perdagangan negara lain nan dianggap tidak adil, diskriminatif, alias merugikan perdagangan AS.
Lebih rinci, Departemen Keuangan Kanada menyatakan langkah ini bermaksud melindungi pekerja, produsen, dan manufaktur Kanada dengan memungkinkan mereka bersaing lebih baik melawan produk AS nan dijual di pasar domestik. Tarif jawaban Kanada nan sudah ada terhadap AS, termasuk tarif 25% pada sektor otomotif nan sensitif secara politis, tetap diberlakukan.
Sebelumnya, perundingan perdagangan antara kedua sekutu lama ini kandas pada akhir Agustus. Pejabat dari kedua belah pihak saling menyalahkan atas kegagalan mencapai kesepakatan dan secara terbuka berbeda mengenai bidang-bidang nan tidak menemukan titik temu.
Senin, Presiden AS Donald Trump menyerukan boikot terhadap produsen pesawat Kanada, Bombardier. Di laman media sosialnya Truth Social, Trump mengatakan "Tidak Ada Lagi Penjualan Bombardie di Amerika Serikat".
AS sendiri mengekspor peralatan senilai US$333,6 miliar (Rp5.889 triliun) ke Kanada dan mengimpor peralatan senilai US$381,9 miliar (Rp6.741 triliun) dari negara tetangga di utara tersebut. Kedua negara terlibat dalam perdagangan di banyak sektor nan sama, termasuk energi, kendaraan, perangkat berat, pesawat terbang, farmasi, batu permata dan perhiasan, furnitur, pakaian, serta beragam jenis makanan dan minuman.
Para ahli ekonomi menyatakan bahwa meskipun barang-barang nan terdampak hanya mencakup sebagian mini dari total perdagangan, upaya mini dan menengah serta pelaku upaya di sektor nan paling terdampak bakal mengalami pukulan berat.
Di sisi lain, Ottawa mengumumkan paket support senilai US$7,5 miliar (Rp 132, 4 triulun) bagi bumi upaya dan pekerja bulan lalu, sebagai tambahan atas biaya sebesar US$25 miliar (Rp440,5 triliun) nan sebelumnya telah disediakan untuk merespons langkah ofensif tarif dunia AS nan dimulai pada April 2025.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·