Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada hari ini, Selasa (8/9). Namun, berasas pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran abu vulkanik dari erupsi tersebut tidak mengarah ke wilayah Jakarta.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengatakan abu vulkanik nan keluar saat ini kemungkinan sudah tidak signifikan sehingga tidak terpantau bergerak ke arah Jakarta.
“Nah, hari ini itu juga meletus. Tetapi barangkali abu nan keluar sudah tidak ada lagi, sehingga jika kita lihat daripada signification meteorologi arahnya itu tidak sampai ke Jakarta,” kata Guswanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9).
Guswanto pun menjelaskan arah pergerakan abu vulkanik sangat berangkaian dengan kondisi angin di atmosfer. Untuk saat ini, Indonesia tengah memasuki musim tandus nan secara umum ditandai dengan pola angin timuran.
“Kalau arah angin kita bisa memprediksi secara umum ya, secara umum bahwa saat ini musim kemarau. Di mana musim tandus itu anginnya angin timuran. Artinya angin dari benua Australia itu bertiup menuju Asia,” jelasnya.
Dengan pola angin tersebut, Guswanto mengatakan secara umum abu vulkanik dari erupsi nan terjadi di area Krakatau bakal lebih mungkin bergerak ke arah barat alias sedikit ke utara.
“Jadi jika meletusnya erupsi di Krakatau harusnya ke wilayah barat ataupun naik sedikit ke utara gitu kan,” ujarnya.
Namun, dia menekankan arah angin tidak bisa hanya dilihat dari pola umum musim. Kondisi atmosfer mempunyai beberapa lapisan dengan arah dan kecepatan angin nan dapat berbeda-beda.
“Namun kita bahwa atmosfer itu sangat kompleks. Jadi perlapisan kami punya,” kata Guswanto.
Untuk mengetahui kondisi angin di setiap lapisan atmosfer tersebut, BMKG melakukan pengamatan menggunakan radiosonde. Alat tersebut digunakan untuk mengukur kondisi atmosfer, termasuk arah dan kecepatan angin pada beragam ketinggian.
“Nah itu kami melepaskan perangkat nan namanya radiosonde. Dia perlapisan itu dicek arah dan kecepatan anginnya. Nah kemarin kita mendapatkan dua klaster tadi,” katanya.
Guswanto mengatakan BMKG mempunyai tugas untuk memantau akibat erupsi, khususnya mengenai arah dan sebaran abu vulkanik. Sementara info mengenai aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau disampaikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Sedangkan BMKG itu mempunyai tugas gimana akibat daripada abu vulkanik itu sebarannya seperti apa. Kalau beberapa hari nan lampau kemarin ya itu kita memandang ada dua golongan klaster untuk sebaran abu vulkanik. Di ketinggian 50.000 feet itu pergerakannya ke arah barat,” kata Guswanto.
Menurutnya, pada ketinggian nan lebih rendah, ialah sekitar 12.000 hingga 15.000 kaki, terdapat pergerakan abu vulkanik ke arah timur. Pergerakan tersebut sebelumnya sempat berakibat terhadap aktivitas sejumlah bandara.
“Sedangkan di ketinggian 12 sampai 15.000 feet itu ada pergerakannya ke timur. Nah, ke timur inilah nan menyebabkan terganggunya beberapa airport mengenai abu vulkanik. Seperti itu intinya secara umum,” pungkasnya.
Adapun Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami 4 kali erupsi pada hari ini berasas catatan Badan Geologi Kementerian ESDM, sebagai berikut:
05:08 WIB – Amplitudo maks. 47 mm, lama 15 detik.
05:34 WIB – Amplitudo maks. 44 mm, lama 10 detik.
07:49 WIB – Amplitudo maks. 48 mm, lama 19 detik.
11:34 WIB – Amplitudo maks. 50 mm, lama 17 detik.
Seluruh letusan di Gunung Anak Krakatau tidak teramati secara visual.
44 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·