Kampus Seribu Jendela: Jejak Arsitektur dan Filosofi Universitas Sanata Dharma

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Gedung utama Universitas Sanata Dharma di Jalan Afandi, Gejayan, nan dijuluki "Kampus Seribu Jendela". Foto: Dok.Istimewa

Diresmikan langsung oleh Sukarno pada 1955, gedung utama Universitas Sanata Dharma di Jalan Afandi, Gejayan, dirancang dengan banyak jendela di setiap sisinya. Pilihan kreasi itu kemudian melahirkan julukan nan memperkuat hingga kini: Kampus Seribu Jendela.

Julukan tersebut setidaknya sudah beredar sejak awal 1990-an. Ketua Program Studi Sejarah, Silverio R. L. Aji Sampurno, mengaku telah mendengar julukan itu sejak pertama kali datang ke kampus pada 1992. Namun, dia menegaskan bahwa nomor seribu tidak pernah dimaksudkan secara harfiah.

“Tahun 1992 lalu, saya ke sini dan sudah mendengar nama istilah itu “Kampus Seribu Jendela”. Kalau memang kita hitung sih tidak mencapai 1.000 gitu. Hanya dalam makna kiasan saja sebetulnya,” ujarnya saat ditemui tim Pandangan Jogja pada Selasa (14/4).

Tampilan Gedung “Seribu Jendela” dari sisi dalam kampus. Foto: Pandangan Jogja

Sejak awal, gedung tersebut memang dirancang dengan banyak jendela di setiap sisinya. Pilihan kreasi ini bukan sekadar estetika, melainkan jawaban atas kebutuhan kenyamanan belajar di masa ketika pendingin ruangan belum tersedia.

“Itu konsepnya adalah agar mahasiswa itu belajar di kelas itu lebih nyaman lantaran sirkulasi udaranya nan itu nyaman, walaupun tanpa AC ya. Dulu memang enggak ada AC kan, nan akhirnya membikin mereka merancang ruangan itu lebih banyak jendela agar sirkulasi udara nyaman,” jelas Silverio.

Selain banyaknya jendela, ruang kelas di gedung lama juga mempunyai langit-langit nan tinggi, diperkirakan mencapai lima hingga enam meter. Desain ini memperkuat sirkulasi udara alami, menjadikan ruang belajar tetap sejuk tanpa berjuntai pada teknologi modern.

instagram embed

Di kembali arsitekturnya, julukan Seribu Jendela juga mengandung makna filosofis nan menjadi bagian dari nilai pendidikan kampus. Bendahara yayasan, Romo Albertus Hartana, menjelaskan bahwa jendela dimaknai sebagai simbol keterbukaan.

“Filosofinya menurut kami dan menurut para penggagas adalah bahwa kita kudu punya mata terbuka. Maka jendelanya dikatakan 1.000 mata terbuka dengan beragam perspektif untuk mencari kebenaran, sama dengan moto alias nilai-nilai di Sanata Dharma itu mencintai kebenaran,” kata Albertus.

Tampilan Gedung “Seribu Jendela” dari sisi dalam kampus. Foto: Dok.Istimewa

Ia menambahkan, nomor seribu juga mempunyai makna simbolik. Dalam nomor Romawi, 1.000 ditulis sebagai huruf M nan berasal dari kata Magnus, nan berfaedah luhur alias agung.

“Ya, lantaran 1.000 itu menurut nomor Romawi itu sempurna,” ujarnya.

Silverio juga menyinggung konteks budaya Jawa nan memperkuat penggunaan istilah tersebut. Dalam tradisi Jawa, kata sewu alias seribu kerap digunakan untuk menggambarkan sesuatu nan banyak, bukan dalam makna hitungan pasti.

Hingga kini, gedung berhistoris tersebut tetap digunakan untuk aktivitas perkuliahan dan tetap menjadi bagian dari identitas Universitas Sanata Dharma. Julukan Kampus Seribu Jendela pun bertahan, bukan hanya sebagai gambaran bentuk bangunan, tetapi juga sebagai simbol keterbukaan—bahwa pendidikan bukan sekadar ruang tertutup, melainkan proses memandang bumi dari sebanyak mungkin perspektif.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan