Kampus hari ini terlihat semakin modern. Semua perihal bisa diukur: nilai, kehadiran, publikasi, aktivitas organisasi, hingga rekam jejak mahasiswa. Hampir tidak ada ruang nan tidak tersentuh angka.
Namun di kembali kerapian itu, ada satu perihal nan jarang diakui: kampus lebih mudah menerima manusia nan sudah “jadi” daripada manusia nan tetap tumbuh.
Kita lebih sigap memandang kekurangan daripada potensi.
Bukan lantaran kita tidak peduli, melainkan lantaran sistemnya memang bekerja seperti itu. Kekurangan punya bahasa nan jelas: nilai rendah, sasaran tidak tercapai, alias standar nan belum terpenuhi. Semua itu bisa langsung dikoreksi. Sementara potensi tidak punya bahasa nan sama tegasnya. Ia muncul sebagai keraguan nan produktif, minat nan tetap bergerak, alias keahlian nan belum menemukan corak akhirnya. Dan dalam sistem nan serba cepat, nan belum berbentuk sering dianggap belum siap.
Di titik ini, masalahnya bukan sekadar langkah kita menilai manusia, melainkan juga langkah kampus dirancang sejak awal.
Kampus modern dibangun di atas logika kepastian: kurikulum, capaian pembelajaran, rubrik penilaian, akreditasi, dan beragam parameter kinerja. Semua itu penting, tidak ada nan salah. Namun, ada pengaruh samping nan jarang dibicarakan: ruang untuk nan tidak pasti semakin mengecil.
Mahasiswa akhirnya belajar sigap satu hal—cara menjadi “terlihat siap”.
Mereka bergerak dari satu sasaran ke sasaran lain. Organisasi berkompetisi membikin program nan bisa dilaporkan. Kegiatan kudu punya output yang bisa diukur. Bahkan, proses belajar perlahan berubah menjadi kejuaraan portofolio.
Yang tidak bisa diubah menjadi angka, pelan-pelan dianggap tidak penting.
Sementara sebagian besar pertumbuhan manusia justru terjadi di wilayah itu, sebelum bisa dibuktikan.
Seorang mahasiswa tidak menjadi kritis lantaran satu mata kuliah. Seorang pemimpin tidak lahir dari satu sertifikat. Seorang pembuat tidak menemukan bahasanya dalam satu lomba. Semua itu lahir dari proses panjang nan sering tidak efisien, tidak rapi, dan susah dijelaskan dalam laporan.
Namun, kampus tidak selalu punya kesabaran untuk membaca proses seperti itu.
Hal ini terasa jelas dalam sebuah obrolan santuy di Banda Aceh, dalam percakapan mengenai Inkubator Seni Berbasis Riset Universitas Syiah Kuala (USK). Tidak ada suasana umum di sana. nan dibicarakan sederhana: ruang seni, panggung kecil, mural, taman kampus, dan aktivitas mahasiswa nan lebih cair.
Namun, justru dari percakapan sederhana itu muncul kegelisahan nan lebih besar: Apakah kampus tetap punya ruang untuk manusia nan belum selesai?
Pertanyaan ini terdengar kecil, tapi dampaknya besar.
Karena banyak perihal nan membentuk mahasiswa justru tidak lahir di ruang formal. Ia muncul di percakapan setelah kelas, organisasi mini nan tumbuh tanpa rencana, alias ruang-ruang seni nan memberi izin seseorang untuk mencoba tanpa langsung dinilai.
Ruang seperti itu semakin jarang.
Dan ketika ruang itu hilang, kampus pelan-pelan berubah menjadi tempat nan sangat efisien—tapi tidak selalu manusiawi.
Seni menjadi menarik dalam konteks ini bukan lantaran dia bagus alias kreatif, melainkan lantaran dia tidak takut pada ketidakpastian. Dalam seni, sesuatu nan belum selesai tidak langsung dianggap gagal. Ia bisa diulang, dibongkar, berubah arah, apalagi tidak jadi sama sekali.
Seni tidak memaksa sesuatu untuk langsung punya corak akhir.
Dan mungkin, itu nan membuatnya semakin krusial di kampus hari ini.
Ruang seni, dalam makna sederhana, adalah ruang nan memberi izin untuk belum selesai. Tempat seseorang bisa datang tanpa kudu menjelaskan dirinya dalam angka, tanpa kudu membuktikan nilainya terlebih dahulu.
Terdengar sederhana, tapi justru itu nan mulai langka.
Kampus hari ini sering berbincang tentang kesehatan mental mahasiswa, tetapi jarang berbincang tentang sesuatu nan lebih mendasar: kesehatan sosial kampus itu sendiri. Padahal rasa memiliki, diterima, dan kesempatan untuk tumbuh berbareng tidak bisa digantikan oleh sistem nan hanya konsentrasi pada capaian individu.
Tidak semua perihal krusial bisa diukur. Dan tidak semua nan tidak bisa diukur berfaedah tidak penting.
Di titik ini, kita perlu jujur pada satu hal: mungkin masalahnya bukan hanya kampus nan terlalu sibuk, melainkan juga kampus nan terlalu percaya bahwa nan bisa diukur adalah nan paling penting.
Karena ketika ukuran menjadi pusat, manusia pelan-pelan berubah menjadi proyek nan kudu segera selesai.
Dan ketika manusia hanya dilihat sebagai sesuatu nan kudu “jadi”, potensi nan sedang tumbuh bakal selalu kalah oleh tuntutan untuk segera terlihat berhasil.
Cara kampus memperlakukan ruang seni, komunitas, dan kehidupan sosialnya sebenarnya memperlihatkan satu perihal nan lebih jujur daripada arsip visi-misi: apakah dia tetap percaya pada proses, alias hanya pada hasil.
Jika hanya hasil nan dihargai, kampus mungkin bakal terlihat rapi, efisien, dan produktif.
Namun, belum tentu dia tetap menjadi tempat di mana manusia betul-betul tumbuh.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·