Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana integrasi PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan PT Industri Kereta Api (Persero) alias INKA diproyeksikan membawa akibat besar bagi industri perkeretaapian nasional.
Selain menjamin pasokan sarana kereta api dalam jangka panjang, langkah ini juga diharapkan menjadi jalan untuk menyehatkan kondisi upaya INKA sekaligus memperkuat rantai pasok industri kereta nasional dari hulu hingga hilir.
Direktur Portofolio Management dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa mengatakan, proses integrasi KAI dan INKA sekarang memasuki tahap kajian setelah kedua perusahaan mendapat mandat dari Danantara untuk melakukan uji tuntas secara menyeluruh.
"Kolaborasi KAI-INKA ini bukan hanya sekarang, mungkin sudah beberapa tahun lampau sudah ada rencananya, kajiannya, tetapi pada saat ini kami percaya di KAI bakal bisa kita kerjakan, lantaran pemegang saham kami, dalam perihal ini Danantara, pada tanggal 18 Mei 2026 sudah memberi kami mandat, baik KAI maupun INKA untuk melakukan uji tuntas dan kajian komprehensif untuk memperkuat kepastian pasokan sarana, efisiensi operasional, sinergi jangka panjang, serta penyehatan esensial upaya INKA," kata Gede dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) berbareng Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Gede menuturkan, salah satu argumen utama integrasi adalah kebutuhan sarana KAI nan terus meningkat dalam lima tahun ke depan.
KAI telah memetakan kebutuhan sekitar 2.166 gerbong bottom dump, 1.208 gerbong datar, 652 kereta penumpang, serta 30 rangkaian KRL Jabodetabek. Angka tersebut belum termasuk kebutuhan armada baru untuk pengembangan jasa di beragam kota.
"Ini hanya buat Jabotabek, belum lagi kereta-kereta nan bakal kita operasikan di kota-kota lain nan mungkin bakal ada request dalam 2 alias 3 tahun ke depan," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, tetap adanya persoalan keterlambatan pengiriman dan kualitas sarana nan perlu diperbaiki. Sejak 2016, KAI telah melakukan pengadaan sarana dari INKA senilai lebih dari Rp18 triliun. Namun lebih dari separuh perjanjian mengalami keterlambatan pengiriman, sementara seluruh perjanjian tercatat menghadapi persoalan teknis.
"100% dari perjanjian juga ada masalah teknis, artinya ada masalah quality issue dan juga keterlambatan delivery nan kudu kita sama-sama penuhi di INKA," tutur dia.
Karena itu, integrasi dinilai bakal memberikan faedah bagi kedua perusahaan. Dari sisi KAI, integrasi diharapkan meningkatkan keandalan sarana, menjamin ketepatan waktu pengiriman, serta menciptakan efisiensi biaya. Sementara bagi INKA, langkah ini bakal menghadirkan kepastian order jangka panjang dan sumber pendapatan berulang dari upaya Maintenance, Repair and Overhaul (MRO).
KAI memperkirakan nilai pesanan nan dapat diamankan untuk INKA dalam lima tahun ke depan mencapai sekitar Rp18,9 triliun. Sementara potensi upaya MRO diperkirakan mencapai sekitar Rp3 triliun per tahun alias setara Rp15 triliun dalam lima tahun.
"Nah mudah-mudahan dengan kepastian order maupun recurring income ini sekaligus juga bisa dijadikan sebagai fondasi nan kuat, untuk menyehatkan finansial dari INKA itu sendiri," ujarnya.
KAI menilai integrasi operator dan manufaktur kereta bukan sesuatu nan baru di dunia. Perusahaan telah mempelajari sejumlah praktik serupa nan diterapkan di Rusia hingga Jepang.
"Nah dari kita sebenarnya sudah juga melakukan beberapa benchmarking soal integrasi ini, nan pertama di Rusia, Jepang. Di Rusia itu sendiri, lantaran mungkin mereka punya embargo nan ketat dari Amerika dan Eropa, di mana mereka kudu betul-betul mengandalkan industri dalam negeri mereka, jadi Russian Railway itu mengakuisisi transholding, dimana transholding itu adalah manufaktur," jelas Gede.
Di Jepang, kata Gede, operator kereta juga mengendalikan perusahaan manufaktur untuk menyelaraskan kebutuhan operasional dengan pengembangan teknologi dan perawatan armada.
"Di Jepang sendiri, Japan Railway alias JR East itu juga mengakusisi 100% J-TREC, Japan Transport Engineering. Nah corak integrasinya adalah penuh melakukan design for maintenance dan juga kontrol kreasi dari JR Railway Operatornya sendiri," ucapnya.
Menurut KAI, model tersebut terbukti bisa menekan biaya pengadaan, memperjelas arah riset dan pengembangan, serta menciptakan kepastian investasi jangka panjang bagi industri kereta api.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·