KAI Bakal Bangun Trem Listrik di Bali, Sambungkan Bandara Ngurah Rai ke Canggu

Sedang Trending 38 menit yang lalu
Penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang Rencana Pengembangan Perkeretaapian di Provinsi Bali pada Selasa (1/9/2026). Foto: Dok. KAI

PT Kereta Api Indonesia alias KAI (Persero) berbareng Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Badung sepakat menyiapkan rencana pengembangan perkeretaapian trem listrik di Bali. Transportasi itu diharapkan menjadi solusi kemacetan di koridor Bandara I Gusti Ngurah Rai-Canggu nan mencatatkan mobilitas harian hingga 150 ribu orang dan 80 ribu kendaraan.

Saat ini sudah ada Kesepakatan Bersama tentang Rencana Pengembangan Perkeretaapian di Provinsi Bali nan ditandatangani Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin, Gubernur Bali Wayan Koster, dan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Selasa (1/9).

Bobby mengatakan perkembangan ekonomi, pariwisata, dan mobilitas masyarakat menjadi aspek krusial dalam memandang kebutuhan sistem transportasi Bali ke depan.

“Melalui kesepakatan ini, kami berbareng pemerintah wilayah mulai mempelajari gimana perkeretaapian dapat menjadi bagian dari pengembangan sistem transportasi Bali,” ujar Bobby melalui keterangan tertulis, Rabu (2/9).

Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, ekonomi Pulau Dewata pada kuartal II 2026 tumbuh 5,78 persen dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Pada periode itu, PDRB atas dasar nilai bertindak mencapai Rp 89,27 triliun. Lapangan upaya penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi kontributor terbesar dengan porsi 21,91 persen.

BPS juga mencatat jumlah visitor mancanegara nan datang langsung ke Bali pada Juni 2026 mencapai 605.013 kunjungan. Angka tersebut meningkat 4,63 persen dibandingkan Mei 2026 nan mencapai 578.251 kunjungan.

Pada periode nan sama, jumlah penumpang penerbangan internasional nan berangkat dari Bali mencapai 650.838 orang, naik 4,93 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, penumpang penerbangan domestik nan berangkat dari Bali tercatat 329.891 orang alias meningkat 4,68 persen.

Bobby menyebut, karakter Bali sebagai salah satu pusat pariwisata Indonesia membikin pengembangan sistem transportasi perlu memperhatikan keterhubungan antara pusat aktivitas masyarakat, area pariwisata, serta beragam moda transportasi nan telah tersedia.

“Bali mempunyai karakter mobilitas dan pengembangan wilayah nan khas. Karena itu, kebutuhan, potensi, integrasi antarmoda, hingga kepantasan pengembangan perkeretaapian perlu dipelajari secara menyeluruh agar rencana nan disiapkan mempunyai dasar nan kuat dan sesuai dengan kebutuhan daerah,” kata Bobby.

Dalam kesepakatan, sejumlah ruang lingkup nan disiapkan meliputi inventarisasi info dan informasi, penyusunan kajian kepantasan dan/atau Detail Engineering Design (DED), integrasi antarmoda, hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Ketiga pihak juga bakal melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga, badan usaha, serta pemangku kepentingan mengenai dalam proses pengembangan rencana perkeretaapian di Bali.

Kesepakatan Bersama, kata Bobby, bertindak selama lima tahun sejak ditandatangani. Pelaksanaannya dapat ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama sesuai dengan kewenangan masing-masing pihak.

“Setiap tahap bakal disiapkan secara cermat, prudent, dan sesuai izin agar rencana nan dihasilkan feasible serta memberikan faedah jangka panjang bagi mobilitas masyarakat dan pengembangan wilayah Bali,” tutur Bobby.

Ilustrasi Trem Listrik. Foto: Edugrafo/Shutterstock

Sementara itu, Koster mengatakan keberadaan trem bisa menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali. Ia menekankan kenyamanan visitor kudu tetap dijaga.

Selain mendukung kepariwisataan, Koster memastikan jalur trem listrik sepanjang 12 kilometer itu bakal memperhatikan keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek wisata, lingkungan, permukiman, hingga kehidupan masyarakat setempat.

Koster menjelaskan trem dirancang secara unik agar berbeda dari kereta konvensional, ialah berukuran kecil, apalagi lebih mini dari bus dengan lebar dimensi 2 meter lebih, tidak berisik, ramah lingkungan, serta bebas kabel melayang lantaran berbasis baterai.

Sesuai perencanaan, trem listrik diproyeksikan mempunyai waktu tempuh 30 menit dengan interval keberangkatan 10 menit. Moda ini ditargetkan mengangkut hingga 60 ribu penumpang per hari alias mengakomodasi 40 persen mobilitas kawasan.

Setelah penandatanganan ini, pihak Pemprov Bali berbareng pemangku kepentingan bakal segera menggelar studi teknis, sosialisasi, hingga pelibatan desa adat. Tahap peletakan batu pertama (groundbreaking) rencananya berjalan pada Maret 2027, kemudian trase pertama dapat mulai beraksi pada 2028 dan seluruh jalur hingga Canggu rampung sepenuhnya pada 2029.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan