Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) buka bunyi mengenai melemahnya nilai tukar rupiah nan sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS. Menurut Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, pelemahan tersebut dipicu oleh pergeseran perilaku pasar nan lebih mengutamakan likuiditas, sehingga dolar AS menjadi pilihan utama dibandingkan aset lainnya.
Anindya pun mengusulkan, agar pengusaha terus meningkatkan upaya ekspor secara intensif, baik di sektor migas dan nonmigas.
“Kita mau tidak mau mesti meningkatkan upaya ekspor nan sudah jalan selama ini. Selama ini kan sangat besar ekspor-ekspor nan ada, baik nan migas dan non migas,” kata Anindya dalam Konferensi Pers Kadin Business Pulse Q1 2026 di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Jumat (24/4).
Untuk sektor nonmigas, Anindya menyoroti pentingnya memberikan support penuh pada industri garmen, tekstil, furnitur, dasar kaki, hingga elektronik. Menurutnya, segala lini nan berpotensi menghasilkan devisa kudu dibantu, meskipun permintaan dunia saat ini terpantau sedang landai.
“Apa pun nan bisa menghasilkan devisa ya kita mesti tolong. Sekarang mengatakan bahwa demand-demand negeri itu semua biasa-biasa saja, tapi tetap secara prinsip ekspor itu mesti dibuka,” lanjut Anindya.
Selain memperluas akses ekspor, dia juga menekankan pentingnya menarik investasi asing sebagai langkah strategis kedua dalam menghadapi pelemahan rupiah. Menurutnya, investasi tidak hanya berkedudukan dalam menciptakan lapangan kerja.
“Karena investasi juga membawa mata duit asing dan itu membantu sekali selain buat lapangan kerja dan lain-lain,” kata Anindya.
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Jumat (24/4) siang ini terpantau turun 0,13 persen. Merujuk info Stockbit, Rupiah berada di level Rp 17.28o per dolar AS pada pukul 14.02 WIB.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·