Kadin: 33,9% Perusahaan Lakukan Efisiensi Biaya Operasional Imbas Perang di Iran

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Direktur Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, dalam Konferensi Pers Kadin Business Pulse Q1 2026 di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) melaporkan hasil temuan mengenai langkah-langkah nan diambil perusahaan dalam mengantisipasi akibat ekonomi geopolitik pada kuartal I 2026, terutama perang Timur Tengah nan melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS). Direktur Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, mengatakan kebanyakan pelaku upaya alias sekitar 33,9 persen memilih untuk melakukan efisiensi pada biaya operasional. Namun, dia menyoroti temuan menarik nyaris sepertiga pengusaha, alias sekitar 29,3 persen, mengaku belum melakukan langkah antisipasi khusus. “Ternyata nan paling banyak dilakukan itu 33 persen semuanya berpikir melakukan Efisiensi Daya operasional. Ada nan mendiversifikasi mitra jual beli (sebanyak) 9,9 persen, meninjau kembali perjanjian upaya (sebanyak) 9,5 persen,” kata Fakhrul dalam Konferensi Pers Kadin Business Pulse Q1 2026 di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Jumat (24/4). Ia pun menyatakan, terdapat 3,9 persen perusahaan nan belum menerapkan kebijakan lindung nilai alias hedging, sehingga akibat utama tetap difokuskan pada pengetatan biaya operasional. Di sisi lain, terdapat pula upaya untuk mendiversifikasi sumber bahan baku alias pasokan nan dilakukan oleh 7,1 persen perusahaan. Sementara itu, 6,4 persen perusahaan memilih untuk mengalihkan konsentrasi mereka pada permintaan domestik demi menjaga stabilitas penjualan. Sehubungan dengan kondisi tersebut, dia menyampaikan angan agar pemerintah dapat memberikan support kepada bumi upaya nan tengah melakukan efisiensi. Menurutnya, corak support nan paling dibutuhkan bumi upaya dari pemerintah saat ini adalah untuk melindungi keberlangsungan upaya mereka. Kebutuhan utama nan mendominasi adalah support subsidi dan insentif fiskal sebagai alas likuiditas bagi perusahaan. “Yang kedua, kemudahan akses pembiayaan lantaran kita sedang mengalami kondisi nan luar biasa. Kemungkinan besar relasi antara sektor finansial dan bumi upaya juga kudu menyesuaikan,” ucap Fakhrul. Dalam kesempatan nan sama, Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, menjelaskan akibat dari perang di Timur Tengah berkarakter universal dan dirasakan di seluruh dunia, tetapi nan membedakan adalah respons dari masing-masing negara. Ia merinci beberapa akibat nyata nan terjadi secara domestik, mulai dari kenaikan nilai BBM, penurunan kesiapan energi, hingga membengkaknya ongkos produksi. Kondisi ini kemudian memicu inflasi pada sektor lain, termasuk nilai pangan, nan diikuti dengan melemahnya tingkat permintaan pasar. “Jadi dalam perihal seperti ini tentu fokusnya pemerintah dan dua bumi upaya kudu memilih apakah murni efisiensi, apakah efisiensi untuk bisa kembali kepada growth,” kata Anindya dalam kesempatan nan sama. Ia pun mengingatkan akibat dari perang di Timur Tengah ini tidak berkarakter jangka pendek alias hanya berjalan selama satu hingga dua kuartal saja. “Karena ini mengubah tantangan daripada supply chain alias rantai pasok,” sebut Anindya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan