Kabut asap menyelimuti ruas jalan di Batam, Sabtu (19/9/2026), sehingga jarak pandang pengendara tampak terbatas. Kondisi ini berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi penduduk nan beraktivitas di luar ruangan.(MI/HENDRI KREMER)
KABUT asap nan menyelimuti sejumlah wilayah di Kepulauan Riau (Kepri) belum sepenuhnya beranjak. Di tengah kondisi udara nan tetap kudu diwaspadai, persoalan kesehatan mulai terlihat dari meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di Kota Batam.
Data Dinas Kesehatan Kota Batam menunjukkan terdapat 7.245 kasus ISPA sepanjang Agustus 2026. Angka tersebut mengalami kenaikan sebanyak 1.184 kasus alias sekitar 19,5 persen dibandingkan Juli nan mencatat 6.061 kasus. Data ini dihimpun dari laporan seluruh puskesmas melalui aplikasi New All Record (NAR).
Kenaikan ini menjadi perhatian serius lantaran terjadi berbarengan dengan periode kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan memicu kabut asap di sejumlah wilayah Kepri. Meski demikian, pemerintah tetap berhati-hati dalam menyimpulkan kaitan langsung antara seluruh peningkatan kasus tersebut dengan paparan asap.
Kepala Dinas Kesehatan Kepri, M. Bisri, menyatakan bahwa peningkatan kasus ISPA memang menjadi salah satu perkembangan nan terus dipantau. Namun, dia menekankan bahwa ISPA mempunyai beragam aspek penyebab.
“Memang ada peningkatan kasus ISPA nan kami pantau di sejumlah wilayah. Namun, kami belum bisa mengatakan seluruh peningkatan itu disebabkan oleh kabut asap lantaran ISPA mempunyai banyak aspek penyebab. nan jelas, ketika kualitas udara memburuk, masyarakat, terutama golongan rentan, kudu mengurangi paparan asap dan aktivitas di luar ruangan,” ujar Bisri saat dikonfirmasi, Sabtu (19/9).
Kesiagaan Fasilitas Kesehatan
Bisri memastikan akomodasi pelayanan kesehatan di Kepri tetap disiagakan untuk mengantisipasi penduduk nan mengalami keluhan gangguan pernapasan. Ia meminta masyarakat tidak menunggu kondisi memburuk sebelum mencari support medis.
“Kami meminta masyarakat tidak menganggap remeh kondisi udara. Kalau memang tidak perlu beraktivitas di luar ruangan, sebaiknya dikurangi. Gunakan masker nan dapat menyaring partikel udara dan perbanyak minum air putih. Untuk anak-anak, lansia, ibu hamil, serta mereka nan mempunyai penyakit penyerta, perlindungan kudu lebih diperhatikan,” tambahnya.
Paparan asap dan partikel udara diketahui dapat mengganggu sistem pernapasan dengan indikasi seperti batuk, tenggorokan gatal, iritasi mata dan hidung, hingga sesak napas dan sakit kepala. Kelompok rentan menjadi perhatian utama lantaran akibat komplikasi nan lebih besar.
Dampak Luas Karhutla
Di sisi lain, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam terus mengingatkan potensi asap akibat karhutla nan dapat mengganggu jarak pandang maupun kesehatan. Kondisi udara kabur tetap berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, sehingga masyarakat diminta memantau perkembangan kualitas udara secara berkala.
Dampak kabut asap ini sebelumnya telah merambah sektor pendidikan. Pemerintah Provinsi Kepri sempat mengalihkan pembelajaran tatap muka bagi siswa SMA, SMK, dan SLB menjadi belajar dari rumah (BDR) akibat kualitas udara nan memburuk.
Walaupun laporan keluhan ISPA di Batam mulai menunjukkan tren penurunan dalam beberapa hari terakhir, kondisi ini belum dianggap sebagai akhir persoalan. Selama titik api tetap muncul dan kondisi atmosfer belum mendukung pembersihan udara secara alami, potensi paparan polutan tetap mengintai.
Kenaikan kasus ISPA menjadi parameter krusial bahwa akibat karhutla tidak hanya berakhir pada persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi "tagihan" kesehatan nan kudu ditanggung masyarakat selama kualitas udara belum stabil.(H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·