Kabupaten Kudus Berada di Zona Aman Kekeringan Jawa Tengah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Kabupaten Kudus Berada di Zona Aman Kekeringan Jawa Tengah Embung Logung di Kabupaten Kudus tetap menyediakan air baku nan mencukupi untuk memenuhi air bersih penduduk di musim tandus ini.(MI/Akhmad Safuan)

KABUPATEN Kudus dinyatakan berada di area kondusif di tengah ancaman kekeringan nan mulai melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Persoalan nan dihadapi wilayah di Pantura Jawa Tengah ini dinilai bukan pada kelangkaan sumber daya, melainkan pada manajemen pengedaran air bersih.

Berdasarkan pemantauan pada Minggu (28/6), akibat musim tandus di Jawa Tengah mulai dirasakan oleh belasan ribu warga. Sejumlah wilayah apalagi telah menerapkan status darurat musibah kekeringan, di antaranya Kabupaten Sukoharjo, Demak, Grobogan, Temanggung, Brebes, Kendal, Sragen, Kota Tegal, dan Kota Salatiga.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat sebanyak 16.258 jiwa alias sekitar 4.808 family di enam daerah--yakni Kabupaten Klaten, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, Jepara, dan Purworejo--mulai mengalami kekurangan air bersih. Sebagai langkah penanganan, support air sebanyak 654 ribu liter telah disalurkan ke desa-desa terdampak.

Namun, kondisi berbeda terlihat di Kabupaten Kudus. Ketersediaan air bersih di wilayah ini dipandang mencukupi kebutuhan masyarakat hingga musim tandus berakhir. "Kudus tidak masuk area merah kekeringan," tegas Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan.

Bergas menjelaskan bahwa beberapa desa di Kudus nan sebelumnya menjadi langganan kekeringan, seperti Desa Sidorekso di Kecamatan Kaliwungu, sekarang justru mengalami perbaikan kondisi nan signifikan. Desa tersebut saat ini apalagi bisa menjadi penyuplai air bersih bagi wilayah di sekitarnya.

Meski berada di area aman, langkah antisipasi tetap dilakukan. Pemerintah Kabupaten Kudus, didukung program Corporate Social Responsibility (CSR) dari beragam pihak, telah menyiapkan sekitar 240 ribu liter air bersih nan siap disalurkan jika sewaktu-waktu terjadi kekurangan di tingkat desa.

Bergas menekankan bahwa tantangan utama di Kudus saat ini adalah teknis penyaluran. "Persoalan di Kudus bukan kekurangan air bersih akibat kemarau, tetapi lebih pada manajemen distribusi," imbuhnya.

Ia menambahkan, meskipun ada wilayah nan mengalami kekurangan air, perihal itu bukan berfaedah sumber air bakunya tidak tersedia. Fokus utama nan perlu dilakukan adalah mendistribusikan air dari letak sumber ke titik-titik nan membutuhkan. Oleh lantaran itu, BPBD Kudus diharapkan tetap sigap dalam merespons setiap permintaan dropping air bersih dari warga. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia