Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkap, KA Argo Bromo sempat melakukan pengereman sebelum menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada April lalu. Pengereman dilakukan dari jarak 1,3 Km, namun hanya sedikit-sedikit.
“Masinis itu sudah mulai ngerem di 1,3 kilometer sebelum letak tabrakan,” ucap Soerjanto dalam rapat berbareng Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Kamis (21/5).
“Dia taunya lantaran diinformasikan oleh PK Timur, pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek,” tambahnya.
Pengereman itu, kata Soerjanto, dilakukan secara hati-hati lantaran mempertimbangkan keselamatan rangkaian.
"Berdasarkan hasil wawancara, KA Argo Bromo Anggrek, taktis pengereman dilakukan secara mempertimbangkan keselamatan terhadap rangkaian kereta nan dioperasikannya,” jelasnya.
Soerjanto menjelaskan, butuh jarak 900 hingga 1.000 meter untuk kereta kondusif berakhir dengan rem maksimal. Namun, KA Argo Bromo saat itu tak mengerem maksimal lantaran perintah rem sedikit-sedikit.
“Karena dia taunya dikomunikasi di dari pusat kendali, ada temperan di JPL 85, Anda melangkah direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35, artinya banyak-banyak klakson,” tuturnya.
“Jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum lantaran info nan diterima dari PK Timur rem dikit-dikit dan sembari bunyikan klakson,” tambahnya.
Adapun kecelakaan bermulai dari sebuah Taksi Green SM tertabrak KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur.
Akibat kecelakaan itu, KRL nan ditabrak KA Argo Bromo kudu berakhir di Stasiun Bekasi Timur. Akibatnya, 16 orang wanita meninggal dunia.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·