Feby Novalius
, Jurnalis-Kamis, 12 Februari 2026 |18:58 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mempertimbangkan perkembangan kondisi fiskal saat menarik utang baru. (Foto: Okezone.com/IMG)
JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mempertimbangkan perkembangan kondisi fiskal saat menarik utang baru. Pemerintah menargetkan penarikan utang anyar mencapai Rp832,20 triliun untuk menambal defisit APBN 2026 sebesar Rp689,14 triliun.
Menurutnya, anggaran Kementerian Keuangan di luar alokasi biaya reguler bisa saja digunakan untuk mengurangi margin utang. Namun, pemerintah lebih memilih memperkuat esensial ekonomi, nan berakibat positif bagi perekonomian.
"Saya punya cash sekarang Rp270 triliun di luar anggaran nan bisa dipakai untuk mengurangi surat utang langsung. Saya mau duit itu dipakai untuk men-drive pertumbuhan ekonomi, sehingga PDB tumbuh kencang. Dengan utang nan sama, rasio utang terhadap PDB kan jadi turun," ujar Purbaya dalam obrolan di Graha CIMB, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Purbaya mengatakan rasio utang Indonesia tetap terkendali meski total utang menyentuh nyaris Rp10.000 triliun pada kuartal III 2025. Publik diimbau untuk tidak cemas soal keahlian negara bayar utang.
Dia menambahkan, dalam rezim internasional, kecenderungan menilai beban utang suatu negara lebih didasarkan pada keahlian bayar utang, walaupun ada sedikit perbedaan dengan pertumbuhan domestik bruto (PDB). Dengan demikian, kolapsnya finansial negara tidak semata-mata ditentukan dari persentase utang.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·