Jika Tuhan Ada, Mengapa Penderitaan Merajalela?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Orang Menderita. Foto: Firman Marek/pexels.

Di sepanjang sejarah peradaban, ada satu pertanyaan kekal nan senantiasa mengusik jiwa manusia. Ketika musibah alam menyapu pemukiman, penyakit merenggut anak-anak tak berdosa, alias kezaliman merajalela tanpa balasan seketika, jeritan itu kembali mengemuka. Jika Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Kuasa, kenapa penderitaan terus datang meremukkan kehidupan? Mengapa rasa sakit tidak ditiadakan saja dari muka bumi?

Pertanyaan sengit ini bukanlah keluhan kemarin sore. Berabad-abad silam, filsuf Yunani Kuno, Epicurus, telah merangkum kegelisahan tersebut ke dalam sebuah teka-teki logika nan sangat menohok. Jika Tuhan mau mencegah kejahatan namun tidak sanggup, berfaedah Dia tidak Mahakuasa. Jika Dia sanggup tetapi tidak bersedia, apakah itu berfaedah Dia tidak Maha penyayang? Jika Dia bisa dan bersedia, dari manakah datangnya seluruh derita ini?

Tantangan pemikiran inilah nan melahirkan bagian diskursus besar nan dikenal sebagai teodise (theodicy). Berasal dari paduan kata Yunani theos (Tuhan) dan dike (keadilan), istilah nan pertama kali dipopulerkan oleh filsuf Gottfried Wilhelm Leibniz pada tahun 1710 ini merujuk pada upaya logika budi manusia untuk mempertahankan keluhuran dan keadilan Sang Pencipta di hadapan realita bumi nan sarat kepedihan.

Filsafat menolak jalan pintas kepasrahan buta nan sekadar berkata, "Sudahlah, ini takdir." Lewat teodise, para ahli filsafat besar lintas tradisi Barat dan Timur menyusun gedung argumen logis untuk membedah apakah penderitaan adalah abnormal dalam semesta, ataukah bagian dari kreasi agung nan maknanya belum tuntas terbaca oleh manusia?

Benteng Pemikiran Barat: Kehendak Bebas dan Bengkel Pembentuk Jiwa

Tradisi makulat Barat membangun pertahanan intelektualnya melalui beberapa pilar penting. Sudut pandang pertama digagas oleh filsuf abad klasik, Santo Augustinus. Baginya, kejahatan dan penderitaan pada hakikatnya tidak mempunyai bentuk eksistensial tersendiri. Kejahatan adalah privatio boni, ialah hilangnya alias rusaknya kebaikan, serupa dengan kegelapan nan sesungguhnya bukan barang materiil, melainkan sekadar ketiadaan cahaya.

Lantas, dari mana datangnya keburukan moral dan kepedihan itu? Jawabannya terletak pada penyalahgunaan kehendak bebas (free will) oleh manusia. Manusia memilih beralih dari Kebaikan Hakiki menuju hal-hal nan fana dan serakah.

Gagasan kehendak bebas ini kemudian disempurnakan pada era modern oleh filsuf Alvin Plantinga. Dia mengusulkan tesis logis, ialah bumi nan dihuni oleh makhluk berpikiran merdeka nan bebas memilih antara melakukan bajik alias jahat mempunyai nilai intrinsik nan jauh lebih mulia daripada bumi nan diisi makhluk nirdaya layaknya robot nan diprogram otomatis untuk selalu benar. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Tuhan menciptakan karunia kebebasan, dan salah satu akibat tak terhindarkannya adalah terbukanya celah munculnya luka dan kesalahan manusia.

Pilar kedua dipelopori oleh Irenaeus nan kelak dikembangkan secara komprehensif oleh John Hick. Hick menegaskan bahwa bumi fana ini memang tidak pernah dirancang sebagai taman rekreasi nan serba nyaman. Bumi sejatinya adalah bengkel pembentukan jiwa. Karakter luhur manusia—seperti keberanian, kelembutan hati, kesabaran, dan solidaritas—tidak bakal pernah dapat tumbuh di dalam ruang hidup nan steril dari rasa sakit dan rintangan. Tanpa adanya bahaya, keberanian menjadi hampa; tanpa adanya air mata sesama, empati kehilangan makna.

Puncaknya, Leibniz mengusulkan argumen nan sangat berani, ialah bumi tempat kita berpijak hari ini adalah kombinasi terbaik dari semua kemungkinan dunia. Melalui kebijaksanaan-Nya nan tak berbatas, Tuhan memperhitungkan seluruh variabel norma alam dan kehendak makhluk, lampau memilih semesta nan menghasilkan kebaikan universal maksimum, kendati menyisakan ruang bagi derita sebagai akibat logis dari keteraturan kosmik.

Timbangan Tradisi Islam: Dialektika Keadilan dan Gradasi Wujud

Dalam lanskap intelektual Islam, dialektika seputar penderitaan bergulir tajam melalui perdebatan teolog dan para filsuf Muslim.

Kelompok Mu’tazilah, di bawah tokoh-tokohnya seperti Al-Qadhi ‘Abd al-Jabbar, memandang keadilan Ilahi sebagai prinsip logis nan objektif. Menurut mereka, Tuhan selalu melakukan perihal nan terbaik dan paling maslahat (al-ashlah) bagi hamba-Nya. Jika ada manusia alias anak mini nan menanggung derita tanpa dosa di dunia, keadilan Tuhan meniscayakan adanya kompensasi pahala dan kebahagiaan ('awadh) nan berlipat dobel di alam alambaka kelak.

Pandangan ini didekonstruksi oleh golongan Asy’ariyah, salah satunya Imam Al-Ghazali. Dia menyeret Tuhan ke dalam ukuran moralitas buatan adalah sebuah kerancuan nalar. Tuhan adalah Pemilik Mutlak semesta. Karena seluruh alam adalah kewenangan milik-Nya, maka apa pun nan diperlakukan Sang Pencipta terhadap ciptaan-Nya pada hakikatnya selalu berada di atas garis keadilan absolut nan tidak bisa diintervensi oleh standar kerasionalan manusia nan rapuh.

Di ranah falsafah, Ibn Sina menawarkan kajian metafisis nan sangat menawan. Senada dengan konsep ketiadaan, Ibn Sina menjelaskan bahwa penderitaan bentuk di bumi material adalah akibat aksidental ('aradh), bukan tujuan utama penciptaan. Kebaikan nan terpancar di alam semesta ini berlimpah ruah, sementara keburukan bentuk hanyalah residu minoritas nan timbul dari hubungan norma materi, seperti api nan membakar alias tumbukan fisik. Menghendaki hilangnya seluruh penderitaan materi sama artinya dengan meniadakan eksistensi alam bentuk itu sendiri, padahal kebaikan alam jasmani jauh melampaui pengaruh samping kekurangannya.

Puncak permenungan metafisis ini disempurnakan oleh Mulla Sadra lewat mahakarya filsafatnya, Hikmat al-Muta'aliyah. Sadra membedah semesta melalui doktrin nuansa bentuk (tasykik al-wujud). Wujud adalah pancaran sinar Ilahi. Semakin jauh tingkat keberadaan dari Sumber Wujud Mutlak, semakin pekat bayang-bayang keterbatasannya. Alam materi berada pada anak tangga bentuk paling dasar, sehingga penderitaan dan kelemahan adalah bukti ontologis bahwa buatan bukanlah Sang Khalik itu sendiri. Penderitaan bukanlah "sesuatu nan diciptakan terpisah," melainkan nama lain dari keterbatasan kodrati makhluk.

Menemukan Titik Temu Lintas Peradaban

Jika kedua kutub tradisi ini disejajarkan, kita mendapati satu benang merah nan sangat memukau. Baik ahli filsafat Barat (Augustinus dan Plantinga) maupun filsuf Timur (Ibn Sina dan Mulla Sadra) sama-sama bermufakat bahwa penderitaan dan kejahatan bukanlah entitas berdikari nan sengaja dihadirkan Tuhan sebagai tujuan akhir. Derita pada dasarnya adalah "ketiadaan kesempurnaan" (privatio boni alias 'adam).

Perbedaan keduanya hanya terletak pada perspektif bidik penjelasannya. Tradisi Barat lebih banyak membedah dimensi etis, tanggung jawab moral, dan hidayah kehendak bebas manusia. Sementara Tradisi Falsafah Islam melayang lebih tinggi pada penyelidikan struktur ontologi kosmik, keterbatasan alam materi, serta kesempurnaan rancangan wujud.

Menatap Derita Tanpa Kehilangan Makna

Pergulatan intelektual seputar teodise pada akhirnya tidak pernah dirancang untuk memadamkan rasa sakit bentuk secara instan. Ketika seseorang tertimpa musibah nan mendalam, rumus-rumus makulat Leibniz alias uraian ontologis Mulla Sadra tentu tidak serta-merta menghapus kepedihan di dada.

Namun, di sanalah letak kemuliaan makulat dan kejernihan iman. Teodise datang bukan untuk membikin manusia berhati beku, melainkan memberi kerangka makna agar jiwa tidak runtuh terperosok ke dalam lembah keputusasaan dan nihilisme. Keberadaan penderitaan tidak otomatis membuktikan ketiadaan Sang Pencipta. Ia justru membongkar sungguh terbatasnya perspektif kita dalam membaca kreasi kosmis nan maha luas.

Sebagaimana diungkapkan oleh filsuf eksistensialis Soeren Kierkegaard, hidup ini bukanlah semata problem matematis nan kudu dipecahkan di atas kertas, melainkan realita hidup nan kudu diresapi dan dijalani dengan penuh keberanian. Akal budi manusia mempunyai kewenangan untuk terus bertanya dan meneliti, namun di tepian pemisah nalar, teodise membimbing kita untuk menundukkan ego intelektual dan memeluk kerendahan hati di hadapan agungnya rahasia Semesta.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan